oleh

H. Yono (Anggota DPRD Tasikmalaya) Apresiasi Surat Edaran Bupati

TASIKMALAYA, (PERAKNEW).- Anggota komisi IV DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Drs. H. Yono Kusyono, M.Pd., apresiasi atas terbitkanya surat edaran Bupati Tasikmalaya nomor 20 tahun 2018 tanggal 16 Oktober tentang penggunaan seragam muslim dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional ke III yang di tanda tangani oleh Wakil Bupati Tasikmalaya, Ade Sugianto, S.I.P.,

Dalam surat edaran tersebut, menyampaikan kepada seluruh karyawan/karyawati di lingkungan Pemerintah Kab. Tasikmalaya agar mengenakan pakaian koko dan kain sarung bagi laki-laki dan busana muslim bagi perempuan, mulai tanggal 10 s/d 22 Oktober 2018 selama jam kerja.

banner 728x90

“Sangat bangga dan apresiasi kepada surat edaran Bupati Tasikmalaya adalah untuk mensosialisasikan baik langsung mau pun tidak langsung, bahwa sarung itu, adalah ciri khas Santri, ciri khas Kiyai dan ciri khas Ajengan. Wakil Bupati Tasikmalaya bertasyakur bin nikmat telah mengintruksikan hal itu dan itu merupakan salah satu bukti kepedulianya kepada Santri,” tandas Drs. H. Yono Kusyono saat ditemui pada silaturahmi di Kantor Kecamatan Cisayong, Rabu (17/10/18) pukul 15.25 WIB.

Diapun mengapresiasi pula, Presiden Jokowi yang telah menetapkan Hari Santri Nasional, kebetulan Presiden yang ke 7 ini mempunyai ide menjadikan HSN dan sadar atau tidak sadar, bahwa di Indonesia khususnya di Kabupaten Tasikmalaya penduduknya 99% memeluk agama Islam, serta di setiap pelosok ada Pesantren.

Tambah Yono, “Santri itu sudah diakui dan dihargai keberadaanya oleh Presiden Jokowi. Maka dari itu, dengan adanya HSN, kami sangat bangga sekali, sesuatu yang membesarkan rakyat karena yang namanya santri kalau dulu itu di abaikan tapi sekarang tidak.

“Orang-orang yang berkwalitas itu mengetahui tentang ilmu agama Islam khususnya dan tahu juga tentang ilmu pemerintahan, tidak sedikit orang-orang keluaran (Lulusan) dari Pesantren itu, sangat berkwalitas, salah satu contoh yang punya gelar Kiyai Haji (KH), Ajengan atau Ustadz juga Ulama itu tidak melalui pendidikan formal, yaitu melalui pendidikan non formal (Pesantren). Mereka sangat berkwalitas, sangat berilmu tentang ke agamaanya dan menjadi benteng kehidupan,” kata Yono. (Fauzi)

Berita Lainnya