oleh

Pemdes Cileuleus Gelar Pembinaan Percepatan Stunting

TASIKMALAYA, (PERAKNEW).- Pemerintah Desa Cileuleus menggelar pembinaan percepatan stunting, bertempat di Gedung Olahraga Desa Cileuleus, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Sabtu 28 September 2019.

Kegiatan pembinaan percepatan stunting, secara resmi dibuka oleh Kasi Kesra Kec. Cisayong, Hanhan yang dihadiri oleh Babinkhantibmas, Kepala Desa Cileuleus, Anang Hardi, Staf Desa Cileuleus, Kader Pos Yandu, PKK, RT, RW, Tokoh Agama dan Tokoh masyarakat.

Materi pembahasan dalam kegiatan pembinaan tersebut, tentang stunting dan kegiatan konvergensi pencegahan stunting, juga pengorganisasian pelaku konvergensi pencegahan stunting di desa.

Stunting merupakan kegawatdaruratan nasional 1 dari 3 anak di Indonesia menderita stunting dan angka stunting di Indonesia jauh lebih buruk dari beberapa negara di Afrika.

Satu dari dua nara sumber, Rita Novita, S.I.P., petugas dari Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia saat menyampaikan materinya memaparkan, bahwa stunting adalah kondisi kekurangan gizi yang kronis, “Secara fisik anak stunting memiliki tinggi badan dibawah standar pertumbuhan anak normal seusianya,” ujarnya.

Penyebab stunting dapat dikelompokan dalam dua kelompok, yaitu Kurang gizi, karena tidak mampu menyediakan bahan makanan, Pola konsumsi yang salah, Pola asuh yang salah.

Kedua, Penyakit, karena Air minum tidak aman konsumsi, Sanitasi tidal layak, Tidak mendapat layanan kesehatan secara memadai. Akibat stunting jangka pendek, Gangguan perkembangan otak, Gangguan pertumbuhan fisik, Gangguan pekembangan motorik pada bayi.

Stanting jangka panjang, Tingkat kecerdasan rendah, Prestasi belajar tidak baik, Prestasi kerja tidak baik (Produktivitas rendah), Kalah bersaing dalam mencari kerja, Cendrung gemuk diusia tua sehingga menderita penyakit degeneratif (Hipertensi, Jantung, Diabetes dan lain-lain.

Sementara itu, dampak dari stanting dalam jangka panjang, mengakibatkan kerugian negara, karena generasi penerus mengalami kondisi yang tidak sehat dan tidak produktif. (Fauzi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya