oleh

Diduga Salah Tangkap, Pegi Gugat Polda Jabar

PERAKNEW.com – Berawal dari Kasus Pembunuhan Vina dan Eky yang terjadi pada 8 tahun lalu, yakni pada tanggal 27 Agustus 2016 silam yang diduga dilakukan oleh sekelompok Geng Motor di Cirebon diadopsi ke Film Horor yang berjudul “Vina Sebelum 7 Hari” oleh Anggy Umbara di tahun 2024 ini, telah menjadikan kasusnya menjadi viral hingga Polisi kembali mengungkap kasus tersebut dan tiba-tiba langsung melakukan penangkapan serta penahanan terhadap satu orang bernama Pegi Setiawan dan polisi juga telah menetapkan Pegi sebagai tersangka otak pelaku dalam pembunuhan Vina dan Eky, belum lama ini.

Atas hal tersebut, seperti dikutip Tribunnews.com, bahwa Tim Kuasa Hukum Pegi Setiawan mengajukan gugatan Praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada Hari Selasa (11/6/2024).

Mereka menganggap, penetapan tersangka terhadap Pegi Setiawan itu tanpa bukti yang kuat. Untuk itu, Muchtar salah satu kuasa hukum Pegi menyatakan, bahwa pengajuan Praperadilan tersebut sudah diterima PN Bandung.

Muchtar menjelaskan, Pegi Setiawan secara tiba-tiba ditangkap meski namanya tak muncul dalam proses penyelidikan 8 tahun lalu, “Kalau misal Polda Jabar mempunyai bukti, kita lihat di konferensi pers pertama tidak ada bukti yang mengarah kepada tindak pidana yang dilakukan klien kami. Kemudian yang selanjutnya sejak 2016 klien tidak pernah dipanggil polisi dan diperiksa sehingga sangat layak dan pantas mengajukan praperadilan,” tegasnya.

Jumlah pengacara yang akan mendampingi Pegi Setiawan dalam sidang praperdilan sebanyak 22 orang, “Jadwal sidangnya kita menunggu dari penetapan pengadilan. Barusan disampaikan penetapan persidangan di SIPP,” tuturnya.

Tim kuasa hukum juga akan mengajukan penangguhan penahanan terhadap Pegi Setiawan. Petugas Polda Jabar belum memberikan surat perpanjangan penahanan yang habis pada 10 Juni 2024, “Kami mengimbau Polda kalau bukti tidak kuat ke klien kami, ikuti penangguhan kami. Klien kami memiliki hak untuk penangguhan penahanan,” tegasnya kembali.

Sejak ditangkap di Bandung, Jawa Barat, Pegi Setiawan membantah terlibat dalam kasus pembunuhan Vina dan Eky. Kuasa hukum Pegi Setiawan, Toni RM menyatakan BAP yang dituliskan kliennya selalu konsisten dan tak berubah, “Jadi, Pegi Setiawan ini konsisten dalam BAP nya, itu menjawab memang tidak melakukan, lalu penyidik mau mencoba memeriksa psikologis, silakan saja,” tuturnya, Senin (10/6/2024), dikutip dari TribunJabar.id.

Baca Juga : Akibat Ulah Oknum Amil, Warga Bojongkeding Nikah Dalam Keadaan Hamil

Selama proses pemeriksaan, Pegi juga membantah sebagai otak pembunuhan. Pegi menyatakan dirinya sedang berada di Bandung saat kasus pembunuhan yang terjadi pada 27 Agustus 2016 silam, “Artinya kalau memang iya, nanti setelah ditanya memang normal, berarti jawaban yang dituangkan dalam BAP oleh Pegi, ya memang apa adanya normal,” tegas Toni RM.

Ia mempertanyakan alasan penangkapan Pegi Setiawan hingga penetapan tersangka. Meski berkas perkara Pegi akan dilimpahkan ke Kejaksaan, kuasa hukum tetap mengajukan gugatan praperadilan, “Kami dari kuasa hukum pasti setiap perkembangannya akan berjuang untuk menunjukkan Pegi Setiawan ini bukanlah Pegi alias Perong, bukan pelaku pembunuhan Vina dan Eky,” katanya.

Toni RM menyatakan, kliennya akan menjalani tes poligraf atau tes kebohongan, “Ada informasi dari Pak Kanit akan pemeriksaan poligraf, itu untuk mengetahui kebohongan akan dilaksanakan Rabu,” tukasnya.

Toni tak mengetahui hasil pemeriksaan psikologi forensik terhadap Pegi Setiawan yang menggunakan lima alat tes, “Cuma memang tidak disampaikan alat pemeriksaannya, tapi yang jelas pemeriksaan ini untuk melihat tiga hal ini yaitu intelegensi kognitif, afeksi dan motorik,” lanjutnya.

Ia tak mempermasalahkan Pegi menjalani serangkaian tes, namun hingga saat ini Pegi masih membantah terlibat pembunuhan, “Silakan, memang kita tidak melakukan. Mau diperiksa dengan cara apapun,” tegasnya.

Selanjutnya dikutip dari Kompas.com, Marwan Iswandi masih selaku Kuasa Hukum Pegi Setiawan, mengaku sudah menyiapkan bukti kuat untuk diajukan dalam sidang praperadilan tersebut dan menyiapkan saksi ahli untuk menghadapi sidang gugatan praperadilan, “Alat bukti untuk praperadilan sudah kami siapkan semuanya, termasuk saksi ahli, dan kami optimis akan memenangkan praperadilan,” jelasnya dalam dialog Kompas Petang yang ditayangkan Kompas TV, Jumat (14/6/2024).

Baca Juga : Beko Barang Sitaan Polisi yang Dititipkan di Dinas PUPR Menghilang

Meski demikian, ia merahasiakan bukti kuat yang akan dibawanya dalam persidangan mendatang, “Ada (bukti kuat), tidak perlu kami sampaikan di publik, yang jelas ada,” tegasnya.

Lanjutnya, “Satu, saya sudah ke Komisi III, saya sudah ke Komisi Yudisial, dan dalam waktu dekat, saya akan menghadap ke Kejaksaan Agung,” lanjutnya.

Ia mengaku akan meminta Jaksa Agung untuk memerintahkan jajarannya menangani kasus pembunuhan Vina dan Eky dengan penuh kehati-hatian, “Saya mau minta pada Jaksa Agung, agar memerintahkan pada jaksa yang di bawah ini perlu kehati-hatian. Jangan sampai, ini kan bola panas ini, bola panas ini nanti lepas dan dipersalahkan kepada kejaksanan. Polisi mengatakan sudah P21, terimanya di jaksa,” kata Marwan.

Marwan juga menginformasikan, “Saya sampaikan, insyaallah dimulai tanggal 24 (Juni). Jadi, praperadilan dimulai tanggal 24 di PN Bandung,” ujarnya, pada Rabu (12/6/2024) malam.

Bukan hanya kuasa hukumnya Pega saja, Eks Kabareskrim Polri, Komjen (Purn) Susno Duadji juga angkat bicara dengan memberikan komentar pedas terhadap dua saksi kasus pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon ini, yakni saksi Melmel dan Aep, “Aep ini bohong. Sesuatu yang dia sampaikan itu impossible, tidak mungkin,” ujar Susno Duadji mengutip dari kanal YouTube tvOneNews, yang diunggah baru-baru ini.

Susno Duadji merinci kebohongan Aep satu per satu. Pertama, Aep diduga mengarang cerita soal alibinya saat menyaksikan detik-detik penyerangan Vina dan Eky, “Dia katakan, dia melihat peristiwa itu delapan tahun yang lalu. Dia berdiri di depan warung dari bengkel. Ternyata, warung itu tidak ada,” kata Susno Duadji.

Baca Juga : Polisi Tidak Segel 3 Tambang Di Subang

Lanjutnya, “Dia katakan, dia melihat peristiwa itu delapan tahun yang lalu. Dia berdiri di depan warung dari bengkel. Ternyata, warung itu tidak ada,” kata Susno Duadji.

Kedua, Susno Duadji menyoroti cerita Aep yang mengaku bisa melihat jelas wajah para pelaku, termasuk Pegi Setiawan, “Jarak dia berdiri dengan lokasi peristiwa sekitar 100 meter. Malam hari, tapi dia bisa tahu pelaku naik apa, tahu merek sepeda motornya, warna sepeda motornya. Dia juga katakan, saya tidak kenal tapi ingat wajahnya,” imbuh Susno Duadji.

Sementara terkait kesaksian lelaki bernama Melmel yang belakangan muncul di publik, Susno Duadji merasa tidak ada yang bisa dikomentari lebih banyak karena ceritanya tidak masuk akal, “Itu kalau saya, belum meriksa saja saya sudah tahu kalau ini pasti bohong,” ucap Susno Duadji.

Susno Duadji pun meminta hakim mencabut kesaksian Aep dan Melmel andai kelak keterangan keduanya terbukti dijadikan dasar memidanakan Pegi Setiawan, “Sudah lah, yang begini-begini, mohon hakim praperadilan yang akan menyidangkan ini, kalau keterangan saksi itu dipakai Polri, gugurkan saja,” tutur Susno Duadji.

Susno Duadji juga meminta Polri menindak tegas Aep dan Melmel andai dugaan menyampaikan kesaksian palsu terbukti, “Minta juga Polri untuk menyidik bahwa dia ini kesaksian bohong,” pungkasnya.

Kasus pembunuhan sadis terhadap Vina dan Eky terus menjadi sorotan public dan fakta-fakta tentang kasus ini pun perlahan mulai terkuak, seperti dikuti dari Kompas TV, Reza Indragiri menyebut, ada dua agenda besar yang harus diselesaikan oleh Polri, mencari DPO tidak suatu prioritas untuk diselesaikan, justru eksiminasi ke titik hulu akan menjadi penyelesaian dari kasus ini, “Lakukan ekseminasi ke titik hulu guna melakukan review ke Polda Jabar sudah sejauh mana scientific terhadap kasus Vina Cirebon,” tegas Reza dalam program Satu Meza, (19/6/2024).

Baca Juga : Komisi 3 DPR RI Diminta Turun Tangan dalam Kasus Mafia Tanah Patimban

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Julest Abraham Abast mengatakan, kasus ini mendapat atensi dari Mabes Polri, Kompolnas hingga Komnas HAM hingga rekomendasi agar kasus segera terungkap, “Kami dari Polda Jawa Barat berharap dengan adanya pemeriksaan psikologi forensik akan semakin membuat terang peristiwa pidana yang terjadi dan melengkapi proses penyidikan yang sedang berlangsung,” ucapnya, Senin (10/6/2024), dikutip dari TribunJabar.id. (Red/Net)

Berita Lainnya