PERAKNEW.com – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengambil tindakan tegas dengan mencopot manajer pupuk di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) setelah dinilai pasif dan gagal memberikan pelayanan yang layak kepada petani yang kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi.
Langkah keras ini diambil Amran saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Banggai, Kamis (10/9), ketika ia mendapati langsung seorang petani yang tak kunjung bisa menebus pupuk hanya karena masalah administrasi belum tergabung dalam kelompok tani.
Di lokasi kunjungan, Amran tak mampu menyembunyikan kekecewaannya melihat lambannya penanganan dari jajaran pelaksana di lapangan, “Jajaran pejabat dan petugas pupuk digaji untuk melayani rakyat, bukan sekadar menunggu di balik meja atau terjebak urusan birokrasi. Bapak ini tidak punya kelompok. Tapi manajer pupuk tidak bisa membantu untuk membuatkan kelompok,” Papar Amran.
Amran mempertanyakan peran manajer pupuk yang tidak pro aktif membantu petani dalam membentuk kelompok tani agar terdaftar secara resmi.
Menurutnya, persoalan administratif tidak boleh menjadi penghalang bagi petani untuk mendapatkan haknya. Petugas di lapangan wajib menjemput bola, melakukan pendataan dan mendampingi petani sampai kebutuhannya terpenuhi, bukan justru membiarkan mereka berjuang sendiri, “Anda digaji untuk melayani rakyat, bukan bergaya. Datangi petani. Saya saja menteri datang ke petani. Ini rakyat butuh. Jangan dibuat menunggu, datangi. Kita ini pemerintah, melayani mereka, kita ini pembantu, kita ini pelayan. Jangan tunggu dia. Jemput semua yang bermasalah. Harus terdaftar, pupuk tersedia. Itu perintah Presiden,” tegas Amran.
Ia menyoroti arahan kepala negara yang menekankan ketersediaan dan kemudahan akses pupuk bagi seluruh petani di tanah air.
Amran pun meminta pemerintah daerah untuk ikut mengawasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang, “Selesaikan. Jangan ada petani yang berteriak seperti itu. Kalau saya dengar dalam satu bulan, tolong pak bupati juga bantu awasi, kasih laporan,” katanya.
Pencopotan pejabat pupuk di Banggai ini menjadi sinyal keras bagi seluruh jajaran di sektor pertanian agar mengutamakan pendekatan pelayanan, ketimbang sekadar urusan formalitas.
Amran mengingatkan, bahwa jabatan adalah amanah untuk melayani masyarakat, terutama para petani yang bergantung pada keberpihakan pemerintah.
Mengakhiri arahannya, ia meminta seluruh petugas agar menyentuh langsung kehidupan para petani dengan rasa empati, bukan sekadar mengukur keberhasilan dari ketersediaan stok di atas kertas semata, “Kasihan tidak?! Bayangkan hidupnya. Kamu enak tidur di AC,” kata Amran, mengingtkan dengan tegas. (GuYu)









