oleh

Massa Desak Polisi Tangkap Pelaku Pengeroyok Fahlevi al Mpu

PERAKNEW.com – Puluhan Massa dari elemen Forum Masyarakat Peduli Jawa Barat (FMP Jabar) melakukan aksi unjuk rasa (unras) didepan Mapolres Subang, Senin 24 Oktober 2022. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “Polisi Harus Profesional, Tindakan Polisi tak Boleh Sesuai Pesanan” dan “Stop Kriminalisasi, Hukum Tak Boleh Tumpul Keatas Tajam Kebawah”.

Dari pantauan Peraknew.com massa aksi langsung disambut oleh Kapolres Subang AKBP Sumarni beserta jajaran di pintu gerbang Pos Propam/Paminal Polres Subang. Aksi tersebut dalam rangka mendesak Kapolres Subang untuk bertindak profesional, tegakan hukum bukan berdasarkan pesanan, jangan sampai hukum tumpul ke atas tajam ke bawah serta perbaiki citra Polri karena masih banyak anggota yang bertindak sembrono dan sewenang-wenang.

Dalam orasinya, Endang Muslim mengatakan turut prihatin sekaligus kecewa dan malu dengan Berjatuhannya Bintang-bintang ditubuh Institusi Polri. Dimana ada keterlibatan mereka, mulai dari Perwira tinggi hingga anggota biasa dalam beberapa perkara pidana, seperti daring, kasus jaul BB Sabu 5 kg oleh Irjen Pol Teddy Minahasa serta baru-baru ini di Sumatera Utara ada tiga oknum Polri merampok sepeda motor warga dan baru terungkap ke permukaan setelah viral di Media Sosial.

Massa Desak Polisi Tangkap Pelaku Pengeroyok Fahlevi al Mpu1

Lebih jauh Endang menyebutkan bahwa institusi kepolisian masih mewarisi watak militeristik dengan citra “having force and power”. Pandangan ini seiring dengan masih munculnya kasus kekerasan, pelanggaran HAM, serta belum adanya penegakan hukum yang berkeadilan dan akuntabel atas pelanggaran-pelanggaran yang melibatkan aparat Polri. Laporan Komnas HAM, misalnya, menunjukkan betapa sering terjadi tindakan kekerasan oleh polisi dalam waktu dua tahun terakhir yang melanggar HAM.

Baca Juga : JPU Tuntut Oknum DPRD Subang Terdakwa KDRT Hanya 3 Bulan, Inilah Bekas Luka Yang Dialami Istri

Terdapat 71 tindakan kekerasan dan 39 tindakan lainnya. Begitu juga catatan Amnesty Internasional, polisi adalah terduga pelaku serangan terhadap pembela HAM terbanyak sepanjang 2021. Sepanjang Juni 2020-Juni 2021 juga ada setidaknya 17 kasus penyiksaan yang diduga melibatkan anggota polisi dengan 30 korban. Sebanyak 402 orang dikabarkan terluka akibat kekerasan oleh polisi saat aksi #ReformasiDikorupsi di berbagai provinsi di Indonesia. Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengungkap temuan 677 kekerasan oleh aparat kepolisian sepanjang Juli 2021-Juni 2022. Kekerasan itu paling banyak dilakukan menggunakan senjata api dengan 456 kasus.

Deretan kekerasan tersebut menyebabkan 928 orang terluka, 59 jiwa tewas, dan 1.240 orang ditangkap. Terbaru, kekerasan polisi di Wadas yang menimbulkan ketakutan dan trauma di masyarakat. Tindakan unlawful killing terhadap 6 Laksar FPI. Penggunaan senjata yang tidak pada tempatnya, telah mengakhiri nyawa 132 orang di Stadion Kanjuruhan Malang. Sebuah tragedi.

Massa Desak Polisi Tangkap Pelaku Pengeroyok Fahlevi al Mpu2

Seperti diketahui, Endang melanjutkan bahwa telah beberapa kali Kapolri Jenderal Sigit Listyo Prabowo memberikan pernyataan keras terhadap anggotanya sperti halnya, mempersilahkan jajarannya yang tidak memiliki komitmen mematuhi arahan Presiden Joko Widodo agar keluar dari ‘gerbong’, termasuk mengancam para Kapolda yang tidak bisa perbaiki Citra Polri akan dicopot.

Baca Juga : Desak Usut Tuntas dan Tangkap Mafia Tanah Patimban, FMP Jabar Geruduk Kantor Kejagung

Selanjutnya dalam orasinya tersebut Endang juga menyebutkan bawha dari hasil penelusura timnya terkait kinerja Polsii di Polres Subang, dimana ada pelaku Pencabulan di Ciasem sudah hampir 4 bulan hingga saat belum terungkap, Kasus Pencurian di Posek Ciasalak dimana kedua belah pihak sudah berdamai dan saat hendak dicabut oleh pelapor ditolak oleh polisi tentu ini bertentangan dengan program Kapolri yakni Restoratif Justice, kasus pencurian disalah satu korporasi kab. Subang diduga terkesan dipaksakan kasusnya kini dipropamkan, penetapan 2 tersangka pengeroyokan di Sukamandijaya pun terkesan dipaksakan dimana peran mereka hanya melerai bahkan salah satunya tidak turun dari motornya, yang lebih mirisnya seharusnya kejadian ini tak terjadi jika kades Sukamandijaya selaku orang tua warga disana saat mereka datang kerumahnya merespon untuk mencegah dengan memanggil korban dan memediasinya tidak malah melakukan pembiaran, pun kini kasusnya dipropamkan, kasus pengeroyokan saudara Fahlevi al Mpu yang mengalami cacat permanen yang diduga melibatkan tokoh masyarakat Desa Sukamndijaya.

Sudah 2 minggu belum ada penangkapan para terduga pelaku tidak seperti Laporan korban Kumbang hanya dalam waktu 2 x 24 jam Polisi berhasil menahan para pelaku, apalagi kondisi korban baik-baik saja hanya mengalamai luka lebam sehingga terpantau oleh warga sehari setelah kejadian sudah dapat beraktifitas sebagaimana biasa. Dan perlu diingat bahwa sudah 2 tahun ini Polres Subang tak mampu mengungkap kasus-kasus korupsi di kabupaten Subang. Beber Endang.

Kapolres Subang AKBP Sumarni menanggapi langsung tuntutan massa aksi, bahwa terkait kasus pengeroyokan di Sukamandijaya menyarankan agar keluarga pelaku dan korban berdamai saling bermaafan, sehingga dapat diselesaikan dengan Restorative Justice. Bahkan Kapolres berjanji akan memfasilitasi perdamaian tersebut. Sementara terkait Laporan Fahlevi Kapolres menyebut kasusnya masih dalam proses.

Baca Juga : Kondisi Gawat Darurat, Seluruh Pihak Diminta Bersama Cegah Peredaran dan Penyalahgunaan Narkoba

Sumarni membantah keras dugaan adanya pesanan dan ia menjamin pihaknya bertindak sesuai SOP dan terkait penanganan kasus korupsi ia menyebut ada salah satu kasus yang sudah P21. (Tim Redaksi)

Facebook Comments

Berita Lainnya