oleh

Kunjungan Jokowi Dikawal Ketat, Nelayan Terdampak Proyek Patimban Sulit Sampaikan Keluhan

PANTURA-SUBANG, (PERAKNEW).- Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) lakukan Kunjungan kerja (Kunker) di Lokasi Proyek Pelabuhan Patimban, Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, yang kini tahapan pembangunannya masih 30%, Jum’at (29/11/19).

Menurut Jokowi, bahwa Pelabuhan Patimban akan menjadi pelabuhan yang sangat besar dengan kapasitas sekitar 650 Hektar lebih, akan menjadi pintu besar bagi ekspor-impor di Indonesia.

Usai tinjau proyek Pelabuhan Patimban, Jokowi melakukan sholat Jum’at di Mesjid Jami Al-Hikmah, di Desa Kotasari, Kecamatan Pamanukan, Kab. Subang dan dilanjut makan siang di Rumah Makan Mapinah, tidak jauh dari Mesjid Al-Hikmah.

Usai makan siang, Presiden Jokowidodo nampak disambut warga Pamanukan yang sejak pagi menunggunya, terutama kaum ibu-ibu yang telah menjadi anggota nasabah PN Mekar Pamanukan, PNPM Mekar merupakan wadah yang memberikan pinjaman dana tanpa anggunan untuk usaha dengan system berkala, mulai pinjaman Rp2 juta hingga Rp20 juta, itupun jika sesuai setoran per minggunya.

Dalam pidatonya Presiden Jokowi mengatakan, “Ibu-ibu termasuk orang yang beruntung, kenapa?/ Karena pinjam uang tanpa anggunan, nah kalau ibu-ibu dipercaya oleh orang, maka uangnya buat modal usaha, jangan beli baju, yang kedua, ibu-ibu harus bisa ngatur uang, supaya bisa bayar angsuran tepat waktu,” ujarnya sambil tertawa.

Dalam perjalanan kunjungan tersebut, Presiden Jokowi menggunakan pesawat Haly Copter dengan pengawalan keamanan sangat ketat, sehingga wartawan juga kesulitan untuk mendekati untuk mewawancarainya dan mengambil gambar.

Sebelum melakukan kunjungan kerja ke Pelabuhan Patimban, Jokowi terlebih dahulu sejak pagi melakukan Infeksi mendadak (Sidak) ke RSUD Ciereng Subang.

Pasalnya, dalam hal pengawalan ketat Jokowi tersebut, menuai kekecewaan terhadap para nelayan terdampak Proyek Pelabuhan Patimban yang sejak pagi menanti ingin menyampaikan keluhan kepada bapak Negara tercintanya itu.

Betapa tidak, seperti telah diberitakan Perak di edisi sebelumnya, bahwa nasib nelayan sejak dibangunnya Pelabuhan Internasional Patimban itu, hingga sekarang semakin memprihatinkan. Mereka menjerit hasil melautnya terus merosot drastis, (biasanya pendapatan mereka dikisaran 700 hingga 1 jutaan lebih dalam sekali melaut, namun kini dikisaran 200 ribuan kebawah, itu belum dipotong Biaya Operasional), bahkan tak jarang dari mereka Tekor (Pendapatan lebih kecil dari Biaya Operasional Melaut).

Hal itu disebabkan akses melaut mereka terhambat dan dihambat oleh oknum pengamanan proyek tersebut, sehingga mereka terpaksa melaut disekitar wilayah yang sudah dtinggal kabur ikan buruannya, menjauh dari jangkauan tangkap sesuai ukuran perahunya yang sangat tidak mungkin jika harus ke area tengah laut, karena itu hanya bisa dilakukan perahu- perahu berukuran besar.

“Sudah Jatuh tertimpa Tangga”  Ungkapan ini cocok dialamatkan kepada mereka, bagaimana tidak, disaat kondisi ekonomi yang morat marit, harga- harga melangit, biaya sekolah, BPJS, TDL Listrik PBB dll naik Melejit, eeehhhh mata pencaharian merekapun dimatikan, “Hidup kami semakin sulit pak, sehari paling kami kebagian Rp30 ribuan setelah di potong ongkos melaut, tapi seringnya kami tekor pak, mau makan apa anak istri kami, kalau mata pencaharian kami terus dihambat, kini anak- anak kami pun kena imbasnya jadi gak bisa sekolah. Padahal kami sudah dijanjikan akan diberi kompensasi, namun sampe sekarang tidak ada, kalau dididata dimintai fotocopi KTP kurang lebih sudah 16 kalian. Bahkan anehnya nama- nama kami pun tercatat sebagai pekerja di proyek tersebut, padahal kami tidak bekerja disana,” ungkap Waslim yang diamini Feri dan nelayan lainnya kepada Perak. (Atang S)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya