oleh

Delapan Tahun Kerap Kekeringan/Gagal Panen, Bupati Subang Siap Kunjungi Petani Pantura

SUKASARI-SUBANG, (PERAKNEW).- Ratusan Petani di Wilayah Pantai utara (Pantura) tepatnya di Dusun Bugel, Desa Sukasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang menjerit tidak pernah merasakan panen raya atau hanya panen biasa, bahkan kerap mengalami gagal panen dalam menanam padinya.

Atas kejadian tersebut, Bupati Subang, H. Ruhimat turut prihatin dan siap untuk menindaklanjutinya, dengan terlebih dahulu akan mengunjungi lokasi untuk langsung menemui para petaninya, “Saya turut prihatin atas musibah yang menimpa para petani di pantura ini. Untuk itu, saya akan secepatnya ke sana dan berdialog langsung dengan para petaninya,” terangnya berjanji, saat diwawancarai Perak, pada Selasa, 09 September 2020, di Rumah dinasnya.

Ruhimat menegaskan, “Padahal pada tahun lalu, saya sudah membuatkan Perbup (Peraturan bupati) tentang pembagian air dan penjadwalan tanam pertanian tersebut. Maka dari itu, atas berita ini, saya akan menekankan para pejabat terkait, agar menerapkan perbup ini dan segera menyelesaikan permasalahan petani ini,” ungkapnya tegas.

Lanjut bupati menginformasikan, bahwa berkaitan dengan masalah pertanian ini, sejumlah tujuh (7) camat di Wilayah Pantura Subang, sudah ada yang berangkat ke Bandung untuk berdialog dengan pihak Pejabat Pengairan Provinsi.

Seperti telah diberitakan Perak sebelumnya, kurang lebih selama 8 (delapan) tahun, lahan pertanian seluas 350 Hektar yang ditanami padi milik mereka kerap mengalami gagal panen, hingga 7 (tujuh) musim panen atau tujuh kali alami gagal panen. Hal ini disebabkan karena minimnya pasokan air dan terus diserang hama, seperti hama tikus, wereng dan lain sebagainya.

Mirisnya, selama ini tidak ada perhatian dari pemerintah atau instansi dinas terkait, mereka seakan tutup mata atas apa yang menimpa petani tersebut selama ini, “Kurang lebih 8 tahun kebelakang, 7 kali gagal nyawah/ gagal panen. Penyebabnya yang pertama dari pihak mitra cai tingkat kecamatan, Dinas Pertanian, Pengamat Pengairan, terlena diam tak peduli nasib petani di Dusun Bugel-Sukasari ini,” papar Ata Tata, S.Pd., M.Si selaku Tokoh Masyarakat Bugel kepada Perak, belum lama ini.

Petani juga menyayangkan tidak adanya pengaturan golongan musim tanam, sehingga kemungkinan gagal panen dapat diminimalisir, “Kenapa tidak diatur golongan?/ Seharusnya kan ada golongan satu, dua dan tiga, karena dari pintu pembagian air Desa Sukasari itu sangat jauh, sehingga wajar kalau Desa Sukasari hampir setiap musim tanam terjadi kegaduhan, gagal dan gagal lagi,” ungkapnya.

Dalam masalah gagal panen ini, petani tidak banyak menuntut, mereka hanya meminta perhatian khusus dari pemerinntah sebagai pemangku kebijakan, “Kami tidak meminta tuntutan kontribusi apa-apa, yang terpenting, adalah pertama, atur golongan musim tanam, kedua, pada saat olah tanam, berantas tikus dan permudah mendapatkan pupuk, karena kartu tani menurut kami ribet,” sambungnya menandaskan.

Selain itu, petani juga mengeluhkan, setiap panen, harga jual hasil pertanian cenderung terus-terusan murah, sehingga tidak seimbang dengan modal bertani yang dikeluarkan, termasuk upah kerja.

Petani Sukasari berharap ada tindaklanjut dari seluruh pemangku kebijakan yang terkait, untuk bersama-sama mencari solusi, agar petani kembali sejahtera dan tidak lagi mengalami gagal panen. Juga usulan agar adanya pembagian musim tanam agar Desa Sukasari bisa bertani secara normal lagi. (Hendra G)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya