Bahaya Longsor Menghantui Kecamatan Cililin

oleh


CILILIN-KBB, (PERAKNEW).- Wakil Bupati Bandung Barat Yayat T.Soemitra melarang warga Kampung Jatiradio, Desa/Kecamatan Cililin,Kabupaten Bandung Barat (KBB) untuk menanam pohon jenis kayu-kayuan di lereng Bukit Gegerpulus. Pasalnya,tiga kali kejadian longsor selalu terjadi setelah pemilik lahan memanen pohon kayu-kayuan miliknya.

”Setiap habis ditebang,selalu terjadi longsor. Ini bukan kejadian pertama, tapi sudah yang ketiga kali.Sebelumnya terjadi tahun 2015 dan 2016,” kata Yayat saat meninjau lokasi longsor di Cililin, Senin (13/3).

Sebenarnya, lanjut Yayat, pohon kayu-kayuan jenis albasia termasuk yang bisa mencegah terjadinya longsor. Namun karena termasuk pohon produksi, setelah besar akan ditebang untuk dimanfaatkan kayunya.

”Persoalannya sehabis ditebang kemudian turun hujan berpotensi menimbulkan longsor,” ujarnya.
Yayat menyarankan warga untuk mengganti jenis pohon menjadi buah-buahan. Sama-sama memiliki nilai ekonomi, tapi kalau pohon buah tidak harus ditebang cukup dipetik buahnya saja. Lain halnya dengan pohon kayu-kayuan, pasti jika akan dipanen harus dilakukan penebangan, ”tuturnya.

Lahan di Bukit Gegerpulus merupakan milik perorangan, oleh pemiliknya sebagian besar ditanami pohon kayu-kayuan seperti Albasia dan Jati Bodas (Jabon).Memiliki kemiringan diatas 45 derajat.

”Memang statusnya lahan milik warga, tapi kalau mengancam keselamatan jiwa lebih baik diganti komoditas dari kayu ke buah-buahan. Lagi pula sama-sama memiliki nilai ekonomi,” ujarnya. Setelah ketitik longsor, orang nomor dua di KBB ini meninjau mobil dapur umum lapangan (dumplap) Tagana milik Dinas Sosial (Dinsos) KBB. Ia sempat memeriksa makanan siap saji dalam kemasan kaleng bagi korban bencana longsor.

”Tanggal kedaluwarsa makanan siap saji dalam kemasan kaleng masih lama, 24 Desember 2018. Baik lauk-pauk maupun beras masih cukup untuk beberapa hari kedepan,” tandasnya. Warga mengakui,kejadian longsor di Bukit Gegerpulus selalu terjadi setiap menebang atau memanen pohon.Longsor mulai terjadi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

”Longsor baru terjadi sejak penggantian tanaman. Sebelumnya,disini banyak tumbuh pohon bambu secara liar. Saya sudah 30 tahun lebih tinggal di Kampung Jatiradio dan aman-aman saja, namun setelah warga banyak menanam pohon Albasia dan Jabon mulai terjadi longsor,” kata Wawan (37) salah seorang warga yang rumahnya terkena material longsor.

Sekretaris BPBD KBB Hari Mustika menambahkan, BPBD mengusulkan status tanggap darurat bencana pasca tragedi longsor di Kampung Jatiradio.Alasannya terjadi pengungsian dibutuhkan penanganan teknis dsb.

”Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pengungsi maupun penanganan teknis pasca bencana itu dibutuhkan anggaran.Tidak mungkin menggunakan anggaran yang ada karena sudah diterapkan penggunaannya. Dengan penetapan status tanggap darurat, kita bisa mencairkan biaya tidak terduga (BTT) untuk penanganan bencana di Cililin,” tandasnya. Ferry/Edy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *