Secepat Kilat, Polisi Tetapkan Dua Tersangka Hoax Surat Suara Tercoblos

oleh -96 views
Kabag Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Syahar Diantono

JAKARTA, (PERAKNEW).- Terkait berita hoax 7 (Tujuh) kontainer surat suara tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok dari Kapal China, polisi telah bergerak cepat secepat kilat dengan langsung menetapkan dua orang berinisial LS dan HY sebagai tersangka. Namun, polisi enggan melakukan penahanan terhadap kedua tersangka tersebut.

Seperti diungkapkan Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Syahar Dianto, “Ada dua, yaitu LS dan HY, sudah ditetapkan tersangka dalam proses pemeriksaan tadi malam dan sudah dipulangkan, tidak ditahan. Kedua tersangka dijerat dengan UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, ancaman hukuman terkait pasal sangkaannya di bawah lima tahun,” ungkapnya, kepada wartawan, Sabtu (5/1/2019).

Dedi menuturkan, bahwa keduanya hanya dimintai keterangannya untuk melakukan profiling guna mengerucutkan penyebar hoax sesungguhnya, “Dalam waktu dekat, polisi juga akan memanggil saksi ahli hukum pidana, saksi ahli bahasa dan ahli teknologi informasi untuk menemukan tersangka dalam kasus ini. Biar lebih mengerucut,” katanya.

Pasalnya, HY ditangkap di Bogor, sementara LS ditangkap di Balikpanan, pada Jumat, 4 Januari 2018. Polisi menduga keduanya berperan aktif menerima kemudian menyebarkan hoaks tersebut.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, “HY perannya menerima konten kemudian ikut menyebarkan, sementara LS juga menerima lalu tanpa dicek langsung memviralkan,” ujar Dedi, di kantornya, Jakarta, Jumat, 4 Januari 2018.

Lanjutnya dia, “HY dan LS diduga berperan sebagai orang yang membantu menyebarkan hoax tujuh kontainer surat suara tercoblos. Polisi kini berupaya menangkap orang yang berperan sebagai creator dan buzzer. Tersangkanya dibagi tiga. Creator itu yang membuat, buzzer itu menyebar, forwarder sebagai yang meneruskan. Langkah selanjutnya agar ditemukan dan ditangkap creator dan buzzer-nya,” tuturnya.

Sementara itu, kasus hoaks tersebut di viral setelah Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief mencuitkan hal dimaksud, di akun Twitter miliknya, pada Selasa malam, 2 Januari 2018.

Andi meminta KPU untuk mengecek langsung terkait kebenaran informasi tujuh kontainer berisi surat suara tercoblos di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Andi pula menyebut adanya rekaman suara yang menyebut ada tujuh kontainer yang baru tiba dari Cina, yang isinya adalah surat suara yang sudah tercoblos.

Menurutnya, informasi ini telah beredar di kalangan politisi. Twit itu dihapus Andi Arief tak lama setelah KPU dan Bawaslu memeriksa langsung kebenaran informasi tersebut, beberapa waktu kemudian.

Buntut dari kabar bohong soal surat suara tercoblos ini, Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma`ruf Amin mempertimbangkan untuk membawa kasus penyebaran hoax yang diduga dilakukan Andi Arief ke ranah hukum.

Wakil Ketua TKN Joko Widodo-Ma`ruf Amin, Abdul Kadir Karding mengungkapkan, semestinya sebelum menyebarkan kabar tersebut, Andi Arief perlu melakukan validasi terlebih dahulu. Apalagi, hingga saat ini kertas suara bahkan belum dicetak oleh KPU, “Logikanya, mana mungkin bisa ada tujuh kontainer surat suara yang sudah tercoblos untuk nomor urut 1 (Satu), sementara, kertas suaranya belum dicetak,” ujar Abdul.

Lanjutnya, “Oleh karena itu yang membuat hoax mesti ditangkap, termasuk yang ikut menyebarkan juga mesti diselidiki oleh hukum. Kalau betul menyebar dan punya bukti, perlu juga ditangkap,” tegasnya.

Sementara, statement itu dibantah keras oleh Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean, yang membela Andi Arief, beralasan apa yang dilakukan oleh Andi Arief bukanlah menyebar berita bohong. Namun meminta klarifikasi dan meminta dilakukan pengecekan supaya tidak menjadi fitnah, “Justru Andi Arief itu ingin membuka kebenaran di balik beredarnya isu itu,” tegas Ferdinand.

“Justru KPU dan Jokowi harus berterima kasih kepada Andi Arief, karena dengan cuitannya itu lah, maka Jokowi diselamatkan dari fitnah, diselamatkan dari tuduhan dan praduga kecurangan,” imbuhnya.

Namun, sejumlah kalangan Partai Demokrat dan sejumlah unsur lainnya tidak tinggal diam terkait dengan rencana sejumlah kalangan untuk menjebloskan Wakil Sekjen Partai Demokrat tersebut ke penjara, dituduh menyebarkan hoax itu.

Meski, dirinya tidak pernah menyebarkan hoax, tapi hanya berkicau dengan menanyakan agar kabar itu diverifikasi kebenarannya. Atas hal itu pula, salah satu unsur Partai Demokrat, Rachland Nashidik juga melakukan upaya untuk membela Andi ditengah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadikan Andi sebagai penebar kebohongan dan diberikan penghinaan kebohongan oleh mereka.

Rachland mengingatkan secara tegas, “Kekuasaan yang saat ini dirasakan oleh PSI tidak abadi, raja kekuasaan politik tak langgeng. Kami akan selalu mengingat kesewenangan kalian pada sahabat kami,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Andi Arief pun lewat akun miliknya meladeni sejumlah serangan yang diterimanya, khususnya meladeni sejumlah pihak yang menjadi buzzer kekuasaan, ia juga membongkar tentang Partai Syamsul Nursalim Indonesia (PSI) merupakan salah seorang koruptor BLBI yang kabur dan menetap di Singapura, tidak tersentuh hukum, dengan melarikan harta karun BLBI di negara penampung koruptor BLBI itu.

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mendapatkan kabar itu, langsung mengecek ke Pelabuhan Tanjung Priok, pada Rabu malam, (2/1/19), untuk membuktikan kabar yang menyebut adanya tujuh kontainer dari Cina yang dikabarkan di dalamnya terdapat 10 juta surat suara pemilihan presiden di setiap kontainer, yang sudah tercoblos untuk nomor urut 1, yaitu pasangan Joko Widodo dan Ma`ruf Amin.

Sementara, KPU kemudian menyatakan kabar itu tidak benar. Bersama Badan Pengawas Pemilu Bawaslu), KPU melaporkan kejadian ini ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Tim Kampanye Nasional Joko Widodo- Ma’ruf Amin ikut melaporkan Andi Arief, karena diduga ikut menyebar hoax itu.

KPU memastikan, isu terkait tujuh kontainer berisi surat suara yang sudah tercoblos adalah kabar bohong atau hoax. Isu ini menambah daftar 62 konten hoax yang berkaitan dengan pemilihan legislatif dan presiden.

KPU melaporkan kasus hoax tersebut, ke Bareskrim Mabes Polri, pada Kamis (03/01/19) siang, untuk ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.

Ketua KPU, Arief Budiman pula menampik kabar adanya anggota TNI AL yang pertama kali menemukan kontainer itu dan KPU sudah menyita satu kontainer berisi surat suara yang tercoblos, mengimplikasikan kebenaran kabar tersebut, “Kali ini kami memastikan berdasarkan keterangan yang diberikan bea cukai, tidak ada berita tentang tujuh container tersebut. Itu tidak benar dan tidak ada juga kabar bahwa ada TNI AL yang menemukan dan tidak benar bahwa KPU dikatakan telah menyita satu container tersebut. Jadi semua berita itu bohong,” ujarnya dalam konferensi pers usai melakukan pengecekan di Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (03/01) dini hari.

Arief menghimbau, pihak berwenang untuk melacak orang yang menyebarkan berita bohong yang menurutnya, `mendeligimitasi penyelenggaraaan pemilu, “Orang-orang jahat yang menganggu pemilu kita, yang mendeligitimasi penyelenggara pemilu harus ditangkap. Kami akan lawan itu, berharap pelakunya segera bisa ditangkap,” tegasnya. Red/Net

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *