Perahu Penyebrangan  Sungai Cipunagara Terbalik Makan Korban Jiwa

SUBANG3,461 views

TAMBAKDAHAN-SUBANG, (PERAKNEW).- Tempat penyebrangan menggunakan Perahu di Sungai Cipunagara atau biasa disebut Jalan Lintas Cepat yang menghubungkan Kecamatan Tambakdahan dengan Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang yang berada di Dusun Bojong Asem, Desa Bojonegara, Kec. Tambakdahan, Kab. Subang, telah menimbulkan duka yang sangat dalam.

Pasalnya, menurut keterangan Nahkoda perahu, bahwa dari pagi sampai sore perahu penyebrangan warga ini, berjalan seperti biasanya, namun pada saat menjelang sholat magrib, ada warga yang ingin menyebrang ke Desa Compreng, setibanya 6 orang dan 5 kendaran sepedah motor, awalnya perahu berjalan normal, namun karena kondisi air Sungai Cipunagara sedang banjir dan arusnya sangat deras, sehingga perahu oleng tidak seimbang, akhirnya perahu kemasukan air, lalu hanyut dan secara perlahan tenggelam, pada Senin, 22 November 2021, pukul 18;30.

Atas kejadian tersebut, keenam orang penumpang, di malam itu juga bisa selamat, diantaranya, bernama Cariban (35), warga Dusun Karangsari, Desa Compreng, Kec. Compreng, Asmadi (37), warga Dusun Karangsari, Desa Compreng, Darka (38), warga Dusun Karangsari, Desa Compreng, Otong (38), warga Desa Bojonegara, Kec. Tambakdahan, Casdi (38), warga Desa Compreng, Kec. Compreng dan Kusnadi (38), warga Kampung Karangsari-RT29/RW11, Desa Compreng, untuk 5 sepedah motor berhasil diangkat.

Namun na’as, ada satu orang yang menjadi korban jiwa, adalah bernama Udin (28), warga Desa Compreng, Kec. Compreng, sampai mayat Udin berhasil diketemukan 2 hari setelah kejadian perahu tenggelam.

Mayat Udin ditemukan dalam pencarian  anggota Tim Damkar, BPBD, Tagana, Polisi dibantu warga setempat.

Mayat Udin ditemukan terapung di sungai, tepatnya di Dusun Babakan Kepuh-RT09/ RW02, Desa Bongas, Kec. Pamanukan dan langsung dievakuasi oleh warga setempat.

Diduga, perahu penyebrangan sungai Cipunagara ini, tenggelam akibatkan muatan yang melebihi kapasitas perahu, seperti yang diungkapkan oleh Arjo sebagai saksi dalam kejadian itu, “Perahu tenggelam karena muatan terlalu banyak, ditambah air sungai mengalir deras, kencang, sehingga perahu hilang keseimbangan lalu oleng,” ungkap Arjo yang rumahnya tidak jauh dari tempat kejadian. (Atang S)