DLH Jabar Cek Lab Pencemaran Limbah Udang Vaname di Blanakan

oleh -38 views
DLH Prov Jabar saat mengemas limbah udang vaname Blanakan

BLANAKAN-SUBANG, (PERAKNEW).- Keberadaan tambak udang vaname di Desa Jayamukti, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang diduga mencemari sejumlah tambak tradisional milik warga setempat.

Berdasarkan hasil investigasi Perak dilapangan, didapati masyarakat dan para petani tambak tradisional mengeluhkan dampak dari limbah tambak udang vaname yang tidak dikelola secara benar oleh pengusaha tersebut, setelah tiga tahun tambak udang vaname dibudidayakan.

“Akibat dari limbah tambak udang vaname yang diduga dibuang sembarangan, biota di saluran-saluran tambak mati, pendapatan petani tambak tradisional dari udang pasangan turun drastis, bandeng yang dibudidayakan tidak bisa tumbuh besar,” ungkap Bambang Marwoto, saat berbincang dengan Perak di kediamannya, Sabtu (14/07/18).

Bambang yang merupakan Aktivis Pemerhati Lingkungan (APL) menambahkan, bahwa petani tradisional yang biasanya memperoleh hasil dari udang pasangan Rp75.000.- sampai Rp100.000.- per hari, saat ini hanya mendapat hasil Rp3000.-hingga Rp5000.- per hari. Bahkan, seringkali para petani tambak ini tidak mendapatkan hasil sama sekali.

Melihat kondisi dan menerima pengaduan dari para petani tambak tradisional, Bambang bersama para petani tambak mengadukan permasalahan ini ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Subang. Akan tetapi, respon dari pihak dinas dinilai lamban dalam menangani permasalahan tambak udang vaname ini. Sehingga, Bambang berkirim surat ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat. Alhamdulillah langsung direspon oleh DLH Provinsi Jabar dan langsung turun ke lokasi tambak udang vaname itu, untuk mengambil sampel air limbah yang selanjutnya akan dilakukan uji laboratorium.

“Masyarakat terutama para petani tambak tradisional berharap ketegasan dari pemerintah dalam menegakkan aturan dan beri sanksi tegas ke pengusaha yang tidak menjalankan usahanya, sesuai peraturan yang berlaku. Sebab, masalah tambak udang vaname ini menyangkut hajat hidup orang banyak, terutama para petani tambak tradisional,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum LSM Forum Masyarakat Peduli (FMP), Asep Sumarna Toha menyayangkan atas lambannya penanganan masalah tambak udang vaname ini, padahal tambak udang vaname ini sudah ada beberapa tahun yang lalu dan luasnya ribuan hektar yang berlokasi di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Subang.

Untuk itu, Asep melanjutkan, pihaknya akan terus mengawal dan ikut mengawasi proses uji laboratorium tambak udang vaname di Desa Jayamukti tersebut, yang sekarang sedang dilakukan oleh DLH Provinsi Jabar.

“Tambak udang vaname di Desa Jayamukti sebagai pilot project, sebab tidak menutup kemungkinan pencemaran akibat limbah tambak udang vaname ini juga terjadi di desa dan kecamatan yang lain di Subang,” ungkap pria berkacamata hitam, yang akrab disapa Asep Betmen ini.

Lanjut Asep, tambak udang vaname di Desa Jayamukti yang sebagian besar menggunakan lahan milik Perhutani ini juga tidak disertai ijin resmi dari Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kab. Subang, “Pemkab Subang harus secepatnya menyelesaikan persoalan ini, jangan tunggu masyarakat terutama para petani tambak tradisional semakin sengsara,” desaknya. Hamid

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *