Dendi Belum Kunjung Dioperasi, Warga Subang Butuh Rumah Singgah di Bandung

oleh


LIPSUS TIM EVAKUASI GAKIN, (PERAKNEW).- Alhamdulillah, menginjak bulan Ramadhan yang akan datang sebentar lagi, Tim Evakuasi Pasien Gakin (TEPG) FMP telah berhasil mendampingi para pasien yang membutuhkan bantuan. Terhitung sejak bulan Maret 2017, pasien yang bernama Rasmi (35) berhasil dioperasi hingga sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Lalu pada awal April mendampingi pasien bernama Ade Siti Arofatul Makiah (8) hingga selesai operasi plastiknya dan berhasil. Di pertengahan bulan April 2017 tim juga tuntas mendampingi Taswa (39), pasien yang menderita batu ginjal hingga akhirnya Tim Medis RSHS berhasil mengangkatnya lewat Operasi ginjal dan perbaikan saluran pembuangan saluran air kecilnya. Dan kini Taswa rutin melakukan kontrol dan tentunya didampingi oleh TEPG FMP.

 

Kini, menjelang puasa, ladang amal itu kembali bertambah lewat Dendi (18), pasien penderita tumor lidah, beralamat di kecamatan Serangpanjang. Dendi telah menjalani pengobatan dan pemeriksaan medis selama setahun yang lalu, namun karena tak kunjung selesai akibat sering tidak jelasnya pemeriksaan di RSHS, maka pada bulan Januari 2016 lalu keluarga Dendi di dampingi oleh kader DPRD mengadukan keluhan Dendi kepada tim dan meminta pendampingan ke RSHS.
Dendi didiagnosa menderita Tumor Lidah Suspele Maliqua yaitu sejenis penyakit tumor tapi tidak ganas, hanya saja proses pembekakan pada penyakit Dendi ini cepat membesar dan diperkirakan terdapat infeksi yang terus menyebar di bagian lehernya.

 

Proses pemberangkatan serta pendampingan Tim EPG FMP sampai saat ini sudah memakan waktu 11 kali baik itu dari Rumah Singgah FMP ataupun dari tempat tinggal pasien.

 

Terhitung sejak tanggal 16 sampai 19 Mei 2017 Dendi sudah menjalani pemeriksaan di Poli Onkologi oleh tim Medis RSHS  dan seterusnya Dendi masih akan dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan yang sangat ketat karena  tumor yang dideritanya cepat membesar, cukup serius hingga mengalami pembekakan di pipi sampai ke bagian leher.

 

Pemeriksaan pun terus berjalan ke ruangan-ruangan di RSHS yaitu ruangan Onkologi, Ruang Poli bedah dalam, Ruang Radiologi bahkan ke ruangan Anestesi, namun Dendi belum bisa diperiksa mengingat ada beberapa berkas pemeriksaan dari radiologi belum lengkap diantaranya pemeriksaan Anfal Paru, EKG ,USG dan Rontgen pun harus diulang karena sudah terlalu lama kawatir ada perubahan pada penyakit yang diderita Dendi.

 

Sedikit harapan timbul pada hari Kamis, 18 Mei kemarin. Dokter sudah merekomendasikan Dendi sebagai prioritas untuk mendapatkan ruangan dan sudah di ACC di Admission Centre, namun setelah ditangani oleh dokter yang berbeda ternyata belum diijinkan dan setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter tersebut maka Dedi belum bisa dioperasi pada bagian lehernya.

 

Rencana awalnya, Dendi sementara akan dioperasi untuk dibuat pernafasan buatan di bagian leher menggunakan selang, tapi bukan permanen, hanya untuk sementara. Selang itu berfungsi untuk memudahkan proses penyembuhan apakah dikemoterapi atau laser.

 

Kegagalan Dendi untuk dirawat yang ke dua kali ini karena belum cukupnya berkas perawatan yang dianjurkan oleh dokter Onkologi terutama belum adanya berkas pemeriksaan anfal paru.

 

Dendi sudah mendapatkan perlakuan medis Biopsi tiga kali, jadi seandainya saja menggunakan perobatan pembiayaan umum maka pasti biayanya sangat besar sekali diperkirakan mencapai kurang lebih Rp36 juta. Biaya itu untuk Biopsi saja, belum lagi pemeriksaan-pemerikasaan di ruangan lain tentu sudah mencapai puluhan juta rupiah.

 

Dengan berbekal kartu BPJS Kesehatan nilai bayar kelas III KIP No 0002034181247 Dendi dan keluarga memberanikan diri untuk pengobatan secara medis baik itu di RSUD Ciereng Subang maupun di RSHS Bandung. Dan tentunya, Dendi didampingi oleh Tim Evakuasi Pasien Gakin FMP agar merasa ringan, karena bolak-balik ke RSHS Bandung sangat jauh belum lagi macetnya, keluh keluarga Dendi. Pepen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *