PERAKNEW.com — Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Pagaden, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat menjadi salah satu penerima bantuan pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dengan nilai anggaran mencapai Rp2,67 Miliar.
Menariknya, pembangunan gedung di SMAN 2 Pagaden tersebut dilakukan melebihi Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan Spesifikasi awal. Jika dalam perencanaan awal hanya ditargetkan membangun 7 ruang kelas, pada pelaksanaannya sekolah berhasil menambah kualitas dan kuantitas bangunan tanpa menambah anggaran.
Ketua Dewan Pembina Komite SMAN 2 Pagaden sekaligus Panitia Pembangunan, H. Yunus, menjelaskan, bahwa proyek ini merupakan program revitalisasi yang langsung ditangani pemerintah pusat, berbeda dengan skema Dana Alokasi Khusus (DAK), “Ini proyek revitalisasi, langsung ditangani pusat. Jadi tidak ada BOP, semua masuk anggaran. Makanya muncul angka sekitar Rp3,6 juta per meter persegi,” jelasnya.
Dari total anggaran Rp2,67 miliar tersebut, SMA Negeri 2 Pagaden memperoleh 7 ruang kelas baru, 1 ruang PK dan 1 ruang UKS. Namun yang menjadi sorotan, pembangunan dilakukan dengan berbagai peningkatan mutu yang tidak tercantum dalam RAB maupun spesifikasi awal.
Beberapa peningkatan tersebut, antara lain Penambahan lobi luas berukuran 7 x 10 meter (awal hanya direncanakan sekitar 3 meter), Penggunaan besi tulangan dari ukuran 12 mm menjadi 16 mm, Persiapan struktur bangunan untuk 2 hingga 3 lantai, dengan pondasi sistem ceker ayam menggantikan batu kali, Kolom bangunan diperbesar dari 15 x 20 Cm menjadi 40 x 40 Cm, Penggunaan beton Readymix sebanyak 113 meter kubik, menggantikan metode adukan manual, Pemasangan rabat beton mengelilingi bangunan sepanjang 52 meter, Penambahan balok gantung beton sebagai penahan panas matahari, Pembuatan saluran gorong-gorong, TPT, dan pengurugan tanah menggunakan alat berat (beko) selama 52 jam dan Penggantian plafon dari gypsum ke PVC, meskipun harganya jauh lebih mahal.
H. Yunus juga menjelaskan, perbandingan biaya tersebut, “Gypsum harganya sekitar Rp54 ribu dapat 2,8 meter, sedangkan PVC Rp70 ribu hanya 1,2 meter. Jelas lebih mahal, dan itu semua di luar RAB,” ungkapnya.
Ia menegaskan, bahwa prinsip utama pembangunan adalah meningkatkan kualitas dan ketahanan bangunan, bukan untuk kepentingan lain di luar bangunan pokok, “Uang kelebihan ini kita manfaatkan untuk kualitas dan kuantitas. Tidak boleh dipakai untuk bangunan di tempat lain. Semua perubahan dibackup dengan berita acara kesepakatan antara panitia dan konsultan. Gambarnya saja sudah lima kali berubah,” ujarnya sambil tersenyum.
Dengan berbagai peningkatan tersebut, SMA Negeri 2 Pagaden kini memiliki gedung sekolah yang tidak hanya representatif, tetapi juga siap untuk pengembangan jangka panjang, sekaligus menjadi contoh bagaimana pengelolaan anggaran dapat dimaksimalkan demi mutu pendidikan. (Hen Gun)










