Ratusan Siswa Ikuti Simulasi Bencana Gempa di SMPN 9 Cimahi

PERAKNEW.com – Wilayah Kota Cimahi berada di jalur potensi gempa akibat aktivitas Sesar Lembang, serta memiliki risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor akibat topografi yang berbukit dan lingkungan permukiman yang padat.

Menyadari kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus menerus menggelar kegiatan Sekolah/Madrasah Aman Bencana (SMAB), sebagai langkah konkret menanamkan budaya sadar bencana sejak dini di lingkungan pendidikan.

Selama dua hari, pada 11–12 November 2025, bertempat di SMPN 9 Cimahi dan SMPN 7 Cimahi, kegiatan ini bertujuan membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan serta memperkuat kesiapsiagaan warga sekolah terhadap risiko bencana alam, terutama gempa bumi yang menjadi salah satu potensi ancaman di wilayah Cimahi.

Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira mengatakan, potensi bencana merupakan resiko yang harus dikelola, “Yang paling penting adalah kesiapan. Sudah beberapa kali lakukan simulasi bencana, mulai dari permukiman padat penduduk di Cigugur, rumah ibadah, perkantoran, dan hari ini di lingkungan sekolah,” ujarnya di lokasi.

Baca Juga : Pemkot Cimahi Gelar Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK Ke-53

Ia menambahkan, Cimahi termasuk wilayah dengan potensi gempa akibat aktivitas Sesar Lembang serta ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Karena itu, edukasi kebencanaan menjadi hal yang wajib dilakukan sejak dini. Menurutnya dalam mengelola resiko terjadinya bencana, yang paling penting adalah kesiapan.

Mengenai mitigasi bencana, Adhitia menyebutkan, selain memastikan seluruh warga teredukasi mengenai kesiapsiagaan bencana, penting bagi pemerintah daerah untuk memastikan keamanan gedung-gedung publik agar tahan bencana, “Yang paling utama adalah edukasi, memastikan setiap orang paham apa yang harus dilakukan bilamana terjadi bencana, yang kedua, simulasi dan latihan lalu yang ketiga, baru nanti masuk ke aspek yang lebih teknis lagi, yang kaitan dengan tata bangunan dan lain sebagainya, bagaimana bangunan itu adalah bangunan yang siap atau tahan terjadinya gempa dan lain sebagainya,” tandasnya.

Senada dengan Wakil Wali Kota, Kepala Pelaksana BPBD Cimahi, Fithriandy Kurniawan menegaskan, bahwa sekolah merupakan tempat yang paling rentan ketika bencana terjadi, karena menampung banyak anak-anak yang membutuhkan perlindungan lebih. Oleh sebab itu, pendidikan kebencanaan harus menjadi bagian dari proses belajar mengajar.

Kepala Pelaksana BPBD Kota, Cimahi Fithriandy Kurniawan mengatakan, program SMAB dilakukan sebagai bentuk mitigasi dalam rangka memperkecil risiko bencana, “Dalam hal ini, mempraktikkan, mensimulasikan, sekaligus memberi pengetahuan kepada warga sekolah,” ujarnya.

Baca Juga : BKPSDM Kota Cimahi Gelar Grand Final Top 5 ASN Teladan Tahun 2025

Pihaknya turut membantu penyusunan Emergency Response Team (ERT) di SMPN 9 Cimahi, “Sekaligus menyusun ERT SMPN 9 Cimahi. Ditentukan pihak-pihak yang memegang tanggungjawab jika terjadi bencana, pemasangan jalur-jalur evakuasi dan titik kumpul. Sehingga bisa tersampaikan edukasi mengenai bencana gempa ini,” ungkapnya. (Harold)