oleh

Tinggal di Gubuk Derita Tanah Milik Orang Lain, Nenek Nari Butuh Uluran Tangan

PAGADEN BARAT-SUBANG, (PERAKNEW).- Nenek Nari, Umur 75 tahun, warga Kampung Balingbing RT 17/RW 04, Desa Balingbing, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang, yang menghidupi cucu-cucu dari anak angkatnya, hingga kini belum tercapai apa yang menjadi cita-citanya di masa tua, ia sangat mengharapkan mempunyai sebidang tanah dan rumah yang layak, sehingga dapat ditempati oleh 2 cucunya itu, sebelum dirinya meninggalkan dunia ini.

Harapan itu selalu terngiang dalam benak Nenek Nari, pasalnya, kini cucu-cucunya sudah beranjak dewasa, namun masih bertempat tinggal di rumah yang tidak layak huni juga berdiri diatas tanah orang lain.

Sehari-harinya, Nenek Nari bekerja serabutan sebagai tukang urut, yang dalam sebulan hanya dapat pasien 2-3 orang dengan tarif yang tidak menentu, seperti yang telah diberitakan Perak pada awal September lalu.

Setelah dikunjungi FMP Posko Cipunagara pada Jumat, 28 Agustus lalu, pihak pemerintah setempat berjanji berusaha mewujudkan harapan Nenek Nari, namun hingga kini masih belum menemukan titik terang, dengan kendala pemilik tanah yang ditempati Nenek Nari bersama kedua cucunya, tidak mau menjual tanah tersebut, “Kami sudah langsung mengusahakan, tapi masalahnya sekarang, pemilik tanah tidak mau menjual, padahal kalau ada tanahnya, insyaallah ada program BSPS untuk rutilahunya,” terang Casidi selaku Kepala Desa Balingbing kepada Perak, pada Jumat (2/10/2020).

Pihak desa masih mencari tanah yang bisa ditempati oleh Nenek Nari, meskipun harus di lokasi lain, “Kami juga masih terus mengusahakan tanah untuk Nenek Nari, kemungkinan di lain lokasi, saya juga sudah meminta bantuan RT, RW dan Kepala Dusun, kalu sudah ada warga juga akan swadaya,” tambah Casidi.

Hal tersebut dibenarkan Nenek Nari, bahwa sampai saat yang menjadi harapannya tersebut belum terealisasi, “Kepala dusun waktu itu sudah datang dan mempertemukan dengan pemilik tanah yang kebetulan masih keluarga nenek dari almarhum suaminya, tapi tidak mau menjual kalau hanya sepetak,“ tutur Nenek Nari kepada Perak, pada Jumat (2/10/2020).

Pemilik tanah tidak melarang tanahnya dibangun rumah untuk Nenek Nari, namun nenek nari menolak kalau tanah tersebut bukan milik sendiri, khawatir terjadi sengketa di kemudian hari, “Kalau mau bangun rumah yang layak, silahkan saja, masa iya nanti anak-anak di usir kalau nenek sudah tidak ada,” tambah Nenek Nari menirukan ucapan pemilik tanah.

Sementara ini, dengan kondisi yang semakin tua, Nenek Nari masih berharap dan berdoa ada yang berbaik hati dan bisa mewujudkan keinginannya, “Nenek berterima kasih kepada semua orang yang sudah mau membantu, tapi bagaimana lagi mungkin belum rezekinya, kadang Nenek sedih, kalau lagi kumpul sama cucu, suka di pandangi wajah-wajahnya sambil berkata dalam hati, kasihan kalian nak, dari kecil sama orangtuanya tidak diurusi, tidak diakui pula, sekarang hidup sama nenek serba kesusahan,” lungkas Nenek Nari sembari menangis. (Duryani)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya