oleh

TEPG FMP Evakuasi Pasien Gakin Anak Gizi Buruk

TAMBAKDAHAN-SUBANG, (PERAKNEW).- Demi menjalankan kewajibannya sejak belasan tahun lalu, dalam aksi sosial mendampingi dan mengurus proses berobat pasien Keluarga Miskin (Gakin) oleh Tim Evakuasi Pasien (TEPG) LSM Forum Masyarakat Peduli (FMP) yang hingga saat ini masih kerap dilakukannya.

TEPG FMP, Pepen dan Pipin kali ini mengevakuasi Pasien Gizi Buruk anak usia 3 tahun, bernama Aldi Azhar, anak dari pasangan suami istri, M Hambali (Ayah) dengan Almarhumah Rastini (Ibu) Warga Gakin Dusun Wanasari-RT/RW-02/02, Desa Wanajaya, Kecamatan Tambakdahan, Kabupaten Subang, ke Puskesmas Mariuk dirujuk ke RSUD Ciereng-Subang, menggunakan Mobil Ambulan Desa Wanajaya, pada Senin, (13/4/2020).

Alhamdulillah, terhitung dari tanggal tersebut, selama 9 hari dirawat di RS Ciereng, Aldi mendapat pelayanan bagus dan perkembangan kesehatannya mulai membaik, hingga dibolehkan pulang oleh dokter, pada Hari Rabu (22/04/2020) yang dihantarkan menggunakan Mobil Siaga TEP Gakin FMP dan disarankan untuk kembali lagi ke RS Ciereng, pada Minggu depan, Hari Senin (27/04/2020) untuk berobat jalan di Poli Anak RSUD Ciereng yang akan ditangani oleh dr. Iwan.

Pasalnya, berkaitan dengan pasien anak, adalah tanggungjawab pelayanan bidan, dalam hal ini Bidan Desa Wanajaya, Hj Rina.

Sebelumnya, Kades Wanajaya, Diki Munandar melalui Chat Whatsapp (WA)nya mengatakan kepada Perak, “Saya sudah kasih tahu bidan desa soal pasien anak Gizi Buruk ini, tapi kok belum ada komfirmasi lagi, saya juga bingung kang, sedangkan kalau, saya kan gak tahu masalah kesehatan,” ungkapnya.

Pasalnya, selain mendampingi pasien untuk berobat yang sudah dijalani itu, lantaran pasien tidak memiliki kartu jaminan kesehatan, TEPG FMP juga turut mengurus berbagai dokumen fasilitas berobatnya, dari mulai pengajuan SKTM dari desa, legalisir Pemcam sampai rekomendasi Puskesmas Mariuk dan seterusnya.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum (Ketum) FMP, Asep Sumarna Toha menegaskan, “Pemerintah di desa juga harus didorong untuk membantu mengatasi stunting. Karena Dana Desa yang dikucurkan pemerintah pusat, yang nilainya meningkat setiap tahunnya dan tahun ini juga mencapai triliunan rupiah, wajib dialokasikan untuk meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya ibu hamil dan bayi yang baru lahir, demi meningkatkan edukasi kesehatan sejak dini, meningkatkan akses layanan kesehatan di desa-desa, serta perbaikan sanitasi,” terangnya ditegaskan aktivis yang akrab disapa Abah Betmen ini.

Bagaimana tidak, kondisi pasien (Aldi) sangat memprihatinkan, tubuhnya hanya terbalut kulit, sangat kurus, tulang belulang terlihat jelas di sekujur tubuhnya. Sekilas dia mirip seperti orang lanjut usia.

Anak pertama dari tiga bersaudara itu, bahkan tidak bisa berjalan. Sehari-hari hanya berbaring atau dipangku sang Nenek dan Kakaknya bernama Awen, “Saya sudah beberapa kali membawa adik saya ke dokter yang ada di wilayah Pantura Subang. Namun tidak ada tanda-tanda sembuh. Sehingga keluarga pasrah, tidak lagi membawa adik Aldi berobat lagi,” kata Awen.

Lanjut Awen, “Semenjak ditinggalkan oleh almarhumah Ibu, keadaan adik saya semakin memburuk dan dianjurkan oleh dokter untuk segera dibawa ke RSUD Ciereng Subang, namun terbentur dengan biaya yang tidak ada. Bahkan berat badannya hanya 4 Kg,” ungkapnya.

Masih keluh kesah Awen, “Saya tidak mampu membiayai adik saya ini. Sedangkan ayah (M Hambali) hanya bekerja jadi kuli bangunan dan buruh tani, bahkan sudah tidak peduli pada anaknya lagi, dari semenjak istrinya meninggal, tidak pernah lagi menengok Aldi,” jelasnya mengeluh. (CJ-Tabroni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya