Olahan Nasi Cireundeu Tampil di Festival Kuliner Cimahi

oleh

CIMAHI, (PERAKNEW). – Dua makanan olahan beras singkong (rasi) khas kampung adat Cireundeu memecahkan rekor pada Festival Kuliner Cimahi. Festival digelar di Plaza Rakyat Pemerintah Kota Cimahi, Jalan Raden Demang Hardjakusumah, Kota Cimahi,belum lama ini. Pembuatan nasi goreng dan bubur merah putih berbahan dasar rasi tersebut dicatat oleh Original Rekor Indonesia (Ori).

Dalam kegiatan tersebut, Indonesia Chef Association (ICA) Kota Cimahi bekerjasama dengan Pemkot Cimahi dan Sinestesia.

Waktu yang diberikan dalam memasak nasi goreng 1 jam 30 menit. Masakan dibuat kerjasama koki profesional bersama ibu-ibu PKK, siswa SMK, dan warga Cireundeu ternyata bisa diselesaikan lebih cepat 15 menit.

Nasi goreng dibuat dalam 8 tungku oleh masing-masing tim. Bumbu khas nasi goreng ditumis lalu diberi tambahan sayuran serta telur ayam. Lantas dimasukkan nasi sehingga jadilah nasi goreng. Hasil masakan dituang pada piring plastik dan langsung diserbu oleh warga.

Hal serupa juga terjadi pada proses memasak bubur nasi merah putih. Bubur nasi diberi pewarna merah yang berasal dari buah naga dan disusun menyerupai bendera merah putih.

Presiden ORI, Agung Elvianto mengatakan, pihaknya mencatat rekor atas dua masakan tersebut karena unik. “Ini pertama di Indonesia ada bahan pangan alternatif pengganti beras yang bisa diolah jadi roti dan makanan lain-lain. Di Cimahi ada nasi khas kampung adat Cireundeu yang ternyata bisa dibuat banyak masakan dan penganan. Dicoba juga rasanya sama dengan nasi goreng biasa,” ujar dia.

Chef Iwan Hariawan Wahyu selaku Ketua ICA Kota Cimahi mengaku bangga atas pencapaian pemecahan rekor ORI. “Kami sebagai insan kuliner tidak hanya putus di nasi goreng, tapi bakal merambah jenis makanan lain. Lewat acara ini, kami berusaha mengangkat agar nasi bisa dikenal masyarakat Jawa Barat, nasional, hingga mancanegara,” ungkap dia.

Dia mengaku tak ada kesulitan dalam mengolah nasi. “Sudah ujicoba beberapa kali dan ternyata mudah diolah. Makanya kami berani membuat masakan ini dan hasilnya 7.200 porsi setara 4,7 ton nasi,” kata dia.

Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Cimahi Huzen Rachmadi mengatakan, kegiatan tersebut mendukung Pemkot Cimahi mensosialisasikan rasi kepada masyarakat.

“Ini solusi bagi Kota Cimahi diversifikasi bahan baku pangan lokal. Kita kembangkan beras singkong di Cireundeu dan beras ganyong di Padasuka,” ujar dia.

Pihaknya berusaha mendorong peningkatan produksi rasi dengan membuat rasi analog yang sedang dalam tahap penyempurnaan. Olahan lain dari bahan baku singkong bahkan bisa dibuat mie maupun pasta. “Kami mengimbau instansi pemerintahan untuk mengkonsumsi rasi minimal 1 kali sehari,” kata dia.

Salah satu warga, Reni (21), mengaku baru pertama kali menyantap rasi. “Enggak dijual umum sih ya jadi belum pernah coba. Baru sekarang merasakan sudah dalam bentuk nasi goreng, enak juga,” ujar dia.

Dia berharap produksi nasi bisa didapat secara umum. “Kayaknya kalau dijual umum tertarik juga buat mengkonsumsi sebagai pengganti nasi,” tutur dia.

(Harold)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *