oleh

Wartawan Perak Resmi Laporkan Pelaku Persekusi

PERAKNEW.com – Wartawan Media Peduli Rakyat (Perak) Galang alias Gaston resmi melaporkan tindakan Persekusi dan menghalang-halangi tugas jurnalistik yang dilakukan oleh Preman Kampungan diduga Beking Kades Sukamandijaya dan Warlan ke Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Subang pada Hari Senin 5 Juni 2023.

Laporan Galang yang didampingi rekan-rekan seprofesinya dan dibantu Forum Masyarakat Peduli Provinsi Jawa Barat (FMP Jabar) tersebut diterima oleh Raden Sukmajaya selaku Anggota Penyidik Satreskrim Polres Subang.

Pasalnya, tindakan Persekusi oleh Preman Kampungan itu dilakukan secara bersama-sama di muka umum di depan Kantor Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat pada Jum’at 19 Mei 2023 lalu saat Galang dan rekannya bernama Hendra (Wartawan Perak) hendak melakukan peliputan mewawancarai Kades Sukamandijaya Saudari Ernawati dan Suaminya bernama Warlan terkait kasus Mafia Tanah Program Tora 2021 Desa Patimban yang berpotensi merugikan negara 1 Triliun rupiah lebih.

Usai melakukan pelaporannya itu, Galang di depan Kantor Satreskrim Polres Subang mengucapkan, “Alhamdulillah laporan Pengaduan saya tadi sudah diterima dan untuk selanjutnya menunggu proses dari penyidik, berharap ditangani dengan serius dan pihak Polres Subang berani menindak tegas para Preman Bayaran Sang Mafia Tanah Patimban ini,” ungkapnya berharap.

Berikut ini penjelasan Galang atas tindakan Persekusi dan menghalang-halangi tugas Wartawan oleh Preman yang dialaminya tersebut, bahwa saat dirinya sedang tugas peliputan, bagian merekam video yakni Galang sendiri menggunakan Handphone nya dan rekannya Hendra yang melakukan konfirmasi atau wawancara kepada Warlan, tiba-tiba dari belakang Handphone Galang dirampas oleh preman itu sambil memfiting lehernya menggunakan tangan kanan, namun sempat terjadi tarik menarik dan akhirnya Galang berhasil merebut kembali Handphonenya.

Lanjut Galang menerangkan, “Preman Bayaran Sang Mafia Tanah itu sambil berteriak-teriak menggunakan bahasa Sunda, yakni Sia ulah ngagoreng-gorengkeun wae keluarga aing atau Bahasa Indonesia nya (Kamu jangan menjelek-jelekkan keluarga saya) dan memaksa agar Galang mematikan video rekaman Handphone nya dan berhenti melakukan peliputan terhadap terduga Mafia Tanah Patimban tersebut.

Baca Juga : Pengakuan Petugas Ukur, Tegas Menyatakan Tidak Pernah Melakukan Pengukuran Lahan TORA 2021

Galang menyebutkan bahwa dia mengenal nama Preman Kampungan yang membekingi Mafia Tanah tersebut, yakni bernama Wahino dan Rusdi.

Lebih jelas Galang menerangkan, bahwa selang beberapa saat setelah kejadian Premanisme tersebut, ada anggota Karang Taruna Desa Sukamandijaya pergi menggunakan sepeda motornya dan kembali lagi memboncengkan Oknum Ketua Karang Taruna Desa Sukamandijaya bernama Dian yang langsung menghampirinya dan menantang rekannya Hendra namun tidak diladeni oleh Hendra karena menurut prediksinya hanya memancing emosi Hendra agar terperangkap jebakan Sang Mafia Tanah dimaksud.

Menanggapi persoalan tersebut, Pemimpin Redaksi (Pemred) Media Perak Asep Sumarna Toha atau biasa disapa Abah Betmen menegaskan, bahwa tindakan persekusi ini merupakan tindakan jadul atau kampungan, apalagi yang dipersekusi oleh oknum masyarakat atau preman kampung itu adalah wartawan yang jelas-jelas dalam menjalankan tugasnya dilindungi oleh undang-undang.

Abah Betmen menegaskan kembali, bahwa Oknum masyarakat yang berbaju preman atau preman yang berbaju masyarakat itu harus ditindak tegas, sehingga kedepannya menjadi efek jera dan profesi wartawan itu jangan dianggap sebagai hal tabu atau negatif, wartawan jelas menyampaikan informasi untuk masyarakat sehingga masyarakat tidak disesatkan oleh informasi-informasi tidak jelas. Intinya tindakan Persekusi terhadap anggotanya yang dilakukan preman kampungan itu adalah tindakan melawan hukum.

Abah Betmen berharap, “Kejadian ini terus-terusan terjadi, makanya kita berharap dengan laporan ini aparat penegak hukum tidak main-main untuk melakukan tindakan terhadap oknum masyarakat yang berbaju preman atau preman yang berbaju masyarakat, harus ditindak tegas sehingga kedepannya menjadi efek jera bagi yang lain dan profesi wartawan itu jangan dianggap sebagai hal tabu atau negatif, wartawan jelas menyampaikan informasi untuk masyarakat sehingga masyarakat tidak disesatkan oleh informasi-informasi tidak jelas,” tandasnya.

Baca Juga : Mafia Tanah Patimban Kerahkan Preman Bayaran Halangi dan Persekusi Wartawan

Abah Betmen menambahkan, “Apapun itu, apalagi di lihat videonya seperti dirampas HP nya ada ancaman-ancaman persekusi, jelas itu tindakan melanggar hukum, berikan edukasi kepada masyarakat terutama kepada preman-preman kampung dan preman bayaran, jangan pernah ada ruang sedikitpun kepada mereka, sikat habis preman yang diperalat oknum-oknum tokoh, pejabat untuk melindungi bisnisnya. Sekali lagi ini sudah diranah kepolisian, maka kita berharap polisi secara profesional dan proforsional untuk melakukan tindakan proses hukum terhadap laporan saudara kita ini dan Stop Kriminalisasi terhadap PERS atau Wartawan dan jangan anggap hina profesi wartawan, profesi wartawan itu adalah profesi yang mulia,” pungkasnya.

Atas kejadian ini jika mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Pasal 18 ayat 1 menjelaskan, bahwa Preman Kampungan Beking Sang Mafia Tanah Patimban tersebut atau setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 yang berbunyi terhadap Pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran.

Dan ayat 3 untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).

Seperti diberitakan Perak sebelumnya, Warlan dan Ernawati Pasangan suami istri (Pasutri) diduga kompak memanipulasi data program Presiden Republik Indonesia yakni program Tanah Objek Reforma Agraria (Tora) Tahun 2021 di Desa Patimban Kecamatan Pusakanagara Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat hingga berpotensi merugikan negara mencapai 1 Triliun rupiah lebih.

Ketika hendak diwawancarai Perak TV di Kantor Desa Sukamandijaya pada Hari Jum’at 19 Mei 2023, Warlan enggan memberikan komentar, malah ngeloyor sambil membelakangi camera Perak, dengan santainya dia berjalan menuju ke luar kantor desa.

Baca Juga : Negara Dirampok 1 Triliun, Satgas Pemburu Mafia Tanah Patimban Ajak Presiden Audiensi

Namun mengetahui Perak sedang melakukan peliputan, ada dua orang yang dikenal Perak yakni bernama Wahino dan Rusdi tepat di depan pintu Kantor Desa Sukamandijaya melakukan tindakan fisik dan Persekusi secara bersama-sama di muka umum, mencoba merampas Handphone milik Perak yang sedang digunakan peliputan sambil berteriak-teriak melarang Perak melakukan peliputan itu. (Ela Wahyu)

Berita Lainnya