Ungkap Masalah Air Bersih dan DD, Warga Geruduk Kantor Desa Panji

oleh
Kantor Desa Panji Buleleng Bali

Kantor Desa Panji Buleleng BaliUngkap Masalah Air Bersih dan DD, Warga Geruduk Kantor Desa Panji

BULELENG-BALI, (PERAKNEW).- Terkait permasalahan air bersih yang sudah lebih dari dua bulan ini tidak mengalir lancar di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Bali, warga desa tersebut geruduk kantor desanya sendiri guna meminta klarifikasi atau penjelasan atas kejadian itu kepada pengurus Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Panji, Selasa (11/7).

Dalam kesempatan itu, sempat terjadi bersitegang antara Perbekel Desa Panji, Nyoman Sutama dengan Gusti Putu Adi Kusuma Jaya yang merupakan salah seorang perwakilan warga.
Kejadian tersebut berawal ketika pihak Bumdes Panji mengaku tidak memiliki kewenangan untuk mencampuri urusan pengelolaan air bersih yang belum diserahterimakan dari pengelola sebelumnya.

Perbekel Sutama yang saat itu tiba di kantor desa akhirnya dimintai klarifikasi oleh Gus Adi terkait permasalahan air bersih yang sudah dua tahun tidak kunjung tuntas.
Setelah bersiteru, pihak perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Panji yakni Dewa Astika akhirnya membawa kedua pihak yang berseteru untuk masuk ke ruang BPD disertai pengurus Bumdes dan pihak kepolisian unsur Bhabinkamtibmas Desa Panji yakni Nyoman Wijaya.

Dalam rapat tersebut terungkap, bahwa ada penggunaan Dana Desa (DD) yang bersumber dari APBN senilai lebih dari Rp300 juta di tahun 2016. Hal itu pun tidak dibantah oleh Perbekel Sutama yang sempat tegang dengan Gus Adi ketika menyinggung proyek pipa baru yang ternyata tidak sesuai dengan peruntukannya.

Pasalnya, proyek yang bersumber dari dana desa itu diperuntukan untuk penyambungan pipa dari bak penampungan air (Kaptering) utama yang ada di kawasan Selatan Desa Panji yakni kawasan Muara. Dengan tujuan untuk mengalirkan air ke kaptering yang terletak di wilayah Banjar Dinas Mandul yang terletak di bagian bawahnya.

“Ternyata tidak ada pipa hitam yang mengalir ke bak Mandul karena yang seharusnya mengalir ke bak Mandul dialihkan untuk menyambung pipa sumbangan pihak ketiga di tahun 2013 yang mangkrak.

Ini sangat lucu sebab pipa itu sudah tertanam sejak tahun 2013 lalu sepanjang hampir 1 Kilometer namun tidak dialiri air karena terputus didepan SD 3 Panji,” ungkap Gus Adi usai mediasi di ruang BPD dan setelah sempat melakukan pengecekan ke lapangan.

Gus Adi bahkan sempat meminta pihak BPD selaku perwakilan masyarakat di Desa Panji untuk mencatat terkait permasalahan pengalihan proyek pipa hitam yang dialihkan untuk menutupi proyek pipa putih di tahun 2013 dan mangkrak selama empat tahun.

Terkait permasalahan tersebut, Perbekel Sutama sepanjang berada di ruangan tampak berusaha mengalihkan konsentrasi permasalahan terkait fakta proyek pipa hitam yang bersumber dari DD dan tidak sesuai dengan peruntukannya.

Ia yang tak banyak bicara seolah menyembunyikan keberadaan proyek gagal pemasangan pipa yang tertimbun sejak tahun 2013. Sutama pun membenarkan keberadaan Bumdes yang telah terbentuk sejak bulan Februari 2017 namun belum bisa mengambil alih pengelolaan air bersih di BPAB sebagai unit.

Dengan alasan, bahwa harus ada proses serah terima terkait dengan masuknya BPAB menjadi unit yang berada di bawah Bumdes. Ironisnya, ia pun tak mampu menjawab fakta proyek senilai lebih dari Rp300 juta dari APBN di tahun 2016 yang tidak sesuai peruntukan dan terbongkar dalam peristiwa di kantor Perbekel Desa Panji itu.

(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *