oleh

Respon Aspirasi Rakyat, Albert Berharap Pemkab Subang Serius Tuntaskan Masalah Sampah di TPS Celeng

PANTURA-SUBANG, (PERAKNEW).- Terkait persoalan sampah yang menutup setengah Jalan Pasar Impres (Celeng), Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, sudah sejak lama ini, tak kunjung selesai.

Kini hal itu menimbulkan berbagai keluhan masyarakat baik setempat, sekitar maupun pengguna jalan yang melintasi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut, dari mulai aroma tak sedapnya hingga tumpukan sampahnya yang menggunung dan berserakan hampir menutupi jalan di TPS.

Pasalnya, sebagian keluhan dari masyarakat itu, sampai ke telinga Anggota DPRD Subang, Albert Anggara Putra, S.H.Mendengar keluhan tersebut, Anggota DPRD dari Fraksi PAN itu langsung bergerak cepat merespon dan menyikapi keluhan warga, “Menindak lanjuti aspirasi saudara-saudariku, pada tanggal 3 Juni 2020, yang ngejapri ke saya ada puluhan orang tentang TPS Celeng Pamanukan ini, seharusnya dari kemaren saya jelaskan, karena istri saya kemaren malam sakit dan fikiran kurang fokus, mohon do’anya untuk kesembuhan istri saya, baru pagi ini saya bisa memberikan informasi hasil dari diskusi panjang saya siang kemaren dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), walaupun DLH bukan leading sector/ mitra kerja saya (karena saya komisi 1) demi Dapil harus cerewet demi menggali sebuah fakta,” ungkapnya.

Lanjut Albert menerangkan, “(1) DLH memiliki 33 Armada, 4 diantaranya rusak, untuk anggaran sparpack tahun 2020 yaitu Rp 70jt. Sementara, untuk biaya servis mobil yang rusak satu mobilnya diangka kurang lebih hampir 20 juta, anggaran nya sekarang kurang lebih tinggal sisa 24jt.

(2). Fakta, bahwa DLH baru bisa melayani 17 kecamatan se-Kabupaten Subang, itupun belum maksimal, padahal Kabupaten Subang ada 30 kecamatan, 17 kecamatan saja belum maksimal, apalagi 30.

(3). Menurut pengakuan DLH, setiap hari 1 fuso ke Celeng Pamanukan, kadang 3 truck, bahkan 1 bulan sekali DLH kerahkan sampai 20 truck, tapi volume sampahnya yang sangat banyak, sementara armada DLH sangat terbatas, sampai meminjam alat berat beko atau loader ke Dinas PUPR.

(4). Kemarin DLH mengirimkan 1 fuso dan 1 armrool, chat saya pada jam 12:05 Rabu 3 Juni 2020, faktanya pagi ini saya cek langsung kelapangan, bisa dilihat foto diatas masih ambyar, foto diambil pada jam 06:23.

(5). BLH mengeluhkan yang bayar retribusi dari pamanukan hanya Pasar Wesel Pamanukan dan yang berada di jalan-jalan protokol saja, perumahan tidak ada yang bayar, sementara sumber sampah kebanyakan dari desa-desa sekitar. (Tambahkan informasi hari ini jam 09:20 dari DLH Pasar impres juga bayar retribusi, itu semua masuk ke PAD).

(6). DLH juga mengeluhkan petugas kebersihan minta diperhatikan karena mereka tidak ada kata libur tanggal merah, sabtu dan minggu pun tetap bekerja apalagi dengan kondisi sekarang pandemi covid-19 orang lain mah di rumah saja, rekan-rekan DLH tidak ada liburnya, mereka tidak dapat honor bulanan khususnya yang non PNS cuman di bayar sama pengganti uang makan hari kerja 39.000, kalo hari libur 65.000 tidak ada insentif apa-apa lagi.

(7). Untuk saat ini solusi hasil diskusi kendala TPS pamanukan, yaitu: (a) harus ditambah lagi armada perharinya, tapi pihak Dinas Lingkungan Hidup kendala armadanya kurang, harus jadi kajian serius pemkab Subang khususnya Bupati dan Wakil Bupati Subang, apabalagi kemaren saya liat di akun Instagram pribadi Bupati beliau foto berlatarkan sampah, artinya beliau peduli akan lingkungan tidak ingin melihat sampah ambyar.

(b) DLH butuh alat berat minimal ada becho mini standby disana insya alloh sampah di TPS pamanukan tertangani,” Paparnya.

Dia menambahkan, “Saya hanya menyampaikan keluhan masyarakat, gak mungkin ketika masyarakat mengadukan aspirasinya ke saya terkait lingkungan sekitar pasar inpres, tempat orang lalu-lalang banyak, saya jawabnya ke mereka, karena volume sampah terlalu banyak, nanti mereka beranggapan pemkab tidak sanggup dan mencari alibi semata saja, saya harap permasalahan TPS cepet terselesaikan menjadi perhatian serius Pemkab Subang, banyak juga aspirasi dari teman-teman yang mengharapkan Pantura Subang memiliki TPS sendiri,” pungkasnya. (Hendra G)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya