Polisi Berhasil Bekuk Penikam Saksi Ahli IT Chat HRS

oleh
pelaku penikam hermansyah

pelaku penikam hermansyahPolisi Berhasil Bekuk Penikam Saksi Ahli IT Chat HRS

JAKARTA, (PERAKNEW).- Polisi akhirnya berhasil menangkap Penyerang Hermansyah di Jalan Dewi Sartika Depok pada Pukul 01.00 WIB dini hari, Rabu, 12/7. Kedua Pelaku adalah Edwin Hitipeuw (37) dan Lauren Paliyama (31).

Tak terima, korban mengejar kendaraan pelaku sampai di KM 6 atau sekitar TMII dan Tol JORR Jakarta Timur. “Korban marah-marah meminta pertanggungjawaban kepada pelaku, lalu mencoba berhentikan mereka,” ungkap Kepala Satuan Reskrim Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Sapta Maulana Marpaung seraya mengungkap motif pengeroyokan terhadap Hermansyah. Menurut dia, Hermansyah terlibat cekcok dengan pelaku di Tol di KM 5,5 Tol Jagorawi, Jakarta Timur, karena mobil Toyota Avanza putih bernomor polisi B 1086 ZFT miliknya disenggol pelaku.Yang terjadi, justru salah seorang pelaku menghunuskan senjata tajam ke sejumlah bagian tubuh Hermansyah.

“Motifnya spontan saja. Mereka yang sedang berada di bawah pengaruh minuman keras menganiaya korban dengan pisau,” ujar Sapta.
Senada, Inspektur Pengawas Daerah (Irwasda) Polda Metro Jaya Komisaris Besar Komarul Zaman mengatakan, peristiwa pengeroyokan dan penganiayaan terjadi secara spontan. Pelaku telanjur kesal dengan sikap korban.

“Ada bus minggir, pelaku mendadak ke kiri akhirnya menyerempet mobil korban. Akhirnya keduanya terlibat kejar-kejaran sampai di KM 6. Tapi saudara LP keluar dan membacok korban,” ucap Komarul.

Seperti diketahui Hermansyah (46), seorang pakar telematika dari ITB yang juga seorang saksi ahli untuk Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) dikeroyok dan dianiaya oleh orang tak dikenal di kawasan Tol Jagorawi pada Minggu (9/07/2017) dini hari. Ia mendapatkan tusukan di atas telinga, ketiak, dan di leher. Saat ini Hermansyah masih menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Senen, Jakarta Pusat.

Salah satu kerabat  yang juga Juru Bicara Aksi Solidaritas ITB ‎untuk Hermansyah, Ahmad Sarbini mengatakan, pakar IT tersebut kondisinya sudah mulai stabil. Kendati sudah dalam kondisi stabil, Hermansyah belum bisa diajak berbicara.

Saksi kunci pembacokan Ahli IT Hermansyah alumni ITB (9/7) adalah istri Hermansyah sendiri, Iriana yang menyatakan penyerangan terhadap suaminya terjadi saat mereka hendak pulang ke Depok dari Cijantung, Jakarta Timur. Saat itu mereka melintas dan dikejutkan dengan dua pengendara yang memacu mobilnya secara ugal-ugalan. Saat berjalan pelan, pengendara tersebut meminta mobil Toyota Avanza Putih nopol B 1086 ZFT yang ditumpanginya untuk berhenti.

“Begitu mobil berhenti, suami saya buka kaca dan langsung dipukuli lima orang laki-laki. Posisi jalan saat itu sepi, saya tidak bisa lihat wajah mereka (para pelaku, Red),” katanya kepada Indopos saat ditemui di RS Hermina, kemarin.

Melihat kondisi suaminya berlumuran darah, perempuan asal Ukraina itu pun langsung ambil alih kemudi. Dia langsung menuju RS Hermina Depok untuk menyelamatkan nyawa Hermansyah. Irina sempat membilas darah suaminya yang mengalir deras.

“Yang saya ingat hanya RS ini saja, makanya saya bawa ke sini. Luka tusuknya di leher, kepala sama tangan di bagian kiri,” ungkapnya.
Menurut Irina, serangan terhadap suaminya yang juga saksi ahli Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu diduga berkaitan dengan kasus chat mesum yang dibahas di salah satu media televisi nasional pekan lalu. Sebab, rasa was-was suaminya terkait hal itu sudah terlihat.

“Saya curiga ini karena dibongkarnya soal chat mesum itu. Selama ini suami saya tidak punya musuh sama sekali,” ujar perempuan yang kurang fasih bahasa Indonesia ini.
Atas dugaan ini Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo Andry pun berencana menempuh jalur hukum terhadap penyebar informasi hoaks itu. Padahal alasan senggol mobil itu didapat dari pengakuan pelaku pembacokan.

“Itu dasarnya apa, mendeskriditkan institusi polri. Hari ini kita buktikan jika hipotesa saya di awal yang menyebut bahwa insiden diawali dengan kejadian senggolan di jalan itu benar,” kata Andry saat dikonfirmasi, Rabu (12/7/2017).

Andry menambahkan, akan memperkarakan oknum yang telah menggiring opini dan berusaha mengaitkan peristiwa penusukan Hermansyah dengan kasus yang sedang melilit Habib Rizieq.
“Kita akan tempuh jalur hukum bagi pihak yang mengaitkan kejadian (penusukan Hermansyah) dengan Rizieq Shihab. Nanti kita akan koordinasikan supaya tidak mengacaukan masyarakat dengan menyebar informasi tanpa dasar,” imbuhnya.

Sementara itu, Komisioner Komnas HAM Maneger Nasution mengapresiasi kinerja kepolisian yang bisa menangkap pelaku sadis terhadap pakar telematika dari ITB itu pada Rabu pagi. Namun, ia meminta polisi untuk tidak terburu-buru dalam menyelidiki kasus tersebut.

“Kesimpulan jangan mendahului proses. Belum saatnya menyimpulkan pelakunya sebatas debt collector, mata elang lagi. Pemabuk dengan motif senggolan jalanan,” kata Maneger Rabu (12/7/2017).
Maneger melanjutkan, berkaca dari kasus Novel Baswedan, meskipun pelaku diduga sebagai debt collector namun hingga saat ini tidak jelas tindak lanjut kasusnya.
“Itu terlalu terburu-buru. Ingatan publik masih sangat segar, dulu muncul juga opini ‘mata elang’ untuk pelaku teror terhadap Novel Baswedan. Toh sampai sekarang, pelaku, aktor intelektuanya dan motifnya masih berada di ruang gelap,” tambahnya.

Semakin berlarut-larut dalam menyelesaikan kasus, maka masyarakat juga semakin kehilangan kepercayaan terhadap korps Bhayangkara itu.
Dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengaku akan mengawal kasus pengeroyokan dan penusukan Hermansyah. Terlebih, potensi ancaman maupun pembungkaman terhadap saksi maupun korban cukup besar.

“Ya ini kalau LPSK kan memberikan perlindungan untuk kasus-kasus prioritas. Yang kita lindungi itu bukan hanya saksi dan korban, tapi juga ahli. Ini kalau misalnya menyangkut kasus prioritas kita beri perlindungan,” kata Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, Kamis (13/7/2017).
LSM Forum Masyarakat Peduli yang dipimpin oleh Asep Sumarna Toha juga turut berkomentar mengenai kejadian yang menimpa Hermansyah. Menurutnya, aneh bila polisi bisa menyimpulkan kejadian dari pelaku saja, apalagi pelaku diketahui dalam kondisi mabuk.

“Aneh, pelaku kan mabuk, sementara ada keterangan dari Iriana. Seharusnya polisi tidak secepat itu mengambil kesimpulan dan dibuka ke publik,” ucapnya. Pegiat anti korupsi yang akrab disapa Asep Betmen ini berharap agar Polisi lebih dalam lagi menggali motif penyerangan ini.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *