oleh

Nyinyir Penusukan Wiranto, Isteri Berbuat, 3 Anggota TNI Ditahan

JAKARTA, (PERAKNEW).- Lantaran Istri-istrinya mengunggah postingan bernada hujatan tentang insiden penusukan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan HAM (Menkopolhukam) RI, Wiranto, tiga anggota TNI dicopot dari jabatannya dan dilakukan penahanan.

Berikut ini nama-nama ketiga anggota TNI tersebut, Anggota POMAU Lanud Muljono Surabaya, Peltu YNS, Komandan Distrik Militer Kendari, Kolonel HS dan Sersan Dua Z.
Adapun ketiga istri anggota dimaksud, yaitu berinisial FS, IPDL dan LZ, yang juga dilaporkan ke kepolisian, karena dianggap melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa menjelaskan, Kolonel HS dan Serda Z mendapatkan sanksi atas ulah istri-istri mereka, “Proses administrasi atau hukuman terhadap HS dan Z sudah saya tandatangani. Tetapi besok akan dilepaskan oleh Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam), Hasanuddin, di Makassar, karena masuk ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara,” ujar Andika di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Seperti diketahui, Kolonel HS dan Sersan Dua Z tak hanya dicopot dari jabatannya, tetapi juga ditambah penahanan selama 14 hari.
Menurut Andika, sanksi pencopotan terhadap kedua prajurit TNI tersebut, telah disesuaikan dengan UU Nomor 25 tahun 2014, tentang disiplin militer.

Pantaskah, Istri Berbuat Suami yang Dihukum?
Sementara itu dikutif dari merdeka.com, Peneliti Senior Imparsial Anton Aliabbas menilai, tindakan TNI yang menghukum prajuritnya bahkan sampai memenjarakan akibat ulah sang istri sangat berlebihan. Sebab, pelaku dugaan tindak pidana bukan prajurit yang bersangkutan, “Ituu berlebihan, hukuman yang semestinya tidak dibebankan kepada prajurit. UU 25 Tahun 2014 itu mengatur disiplin bagi prajuritnya, bukan bagi keluarganya,” kata Anton.

Dia menambahkan, dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh istri atau keluarga tidak bisa ditimpakan dan tidak mengikat kepada prajurit TNI.
“Pertama, dugaan tindak pidananya sendiri kan harus dibuktikan pengadilan baru dinyatakan bersalah atau tidak. Kedua, yang melakukan bukan prajuritnya, tapi istrinya,” ujarnya.

Meskipun hukuman itu terkait pembinaan, kurungan 14 hari penjara yang dikenakan kepada para prajurit, sekali lagi, dalam pengamatan Anton, tidak tepat.
“Disayangkan penghukuman ini, tidak bisa dibenarkan, berlebihan. Jangan sampai jadi kebiasaan. Bahwa ada etika bermedsos itu penting, tapi enggak pas untuk model eksesif seperti ini. Dan ini belum pernah terjadi sebelumnya,” tukasnya.

Soal karier para anggota TNI yang dihukum ini, Anton mengatakan, bisa saja mempengaruhi. “Yang pasti akan terus menjadi catatan bagi mereka,” pungkasnya.

Sebelumnya, Wiranto mengalami penyerangan dan penusukan oleh dua orang pelaku berinisial SA dan FA, menggunakan senjata tajam sejenis pisau kecil dengan ujung lancip dan tajam di kedua sisinya, tepat di Pintu Gerbang Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019) siang.

Akibat serangan itu, sang jenderal tersebut, mengalami luka tusuk yang cukup serius hingga membuatnya harus dirujuk ke RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta. Setelah mendapatkan perawatan darurat di RS Berkah, Pandeglang.

Wiranto ditusuk di bagian perut setelah meresmikan gedung di Universitas Mathla’ul Anwar, Pandeglang, Banten, pada Hari Kamis itu.

Seperti dilansir Kompas.com. Menurut Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, Kapolsek Menes, Kompol Daryanto juga ditusuk pelaku saat sedang diamankan, “Pada saat kejadian tersebut, juga ada kapolsek dan kapolda sendiri yang langsung mengamankan. Saat kapolsek mengamankan pelaku, kapolsek tertusuk di bagian belakang,” kata Dedi.

Sementara, pelaku sudah diamankan polisi saat itu juga dan masih dalam pemeriksaan Polres dan Polda Banten.

Disebutkan sebelumnya, dua pelaku berhasil diamankan di tempat kejadian perkara, “Dua pelaku diduga laki-laki berinisal SA dan perempuan (inisial) FA, warga Brebes,” kata Dedi.

Dedi mengatakan, SA mendekati Wiranto, melakukan serangan dan senjata yang dibawanya mengenai tubuh Wiranto bagian depan.

Selanjutnya Direktur Utama RSUD Berkah Pandeglang, Firman menyatakan, bahwa Mekopolhukam, Wiranto terkena dua tusukan di bagian perut, “Untuk Pak Wiranto ada dua tusukan di perut,” katanya, ketika ditemui di RSUD Berkah Pandeglang.
Firman menjelaskan, sebelum dibawa ke RSUD Berkah, Wiranto dan tiga korban lainnya sempat mendapat perawatan di Puskesmas Menes. Red/Net

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya