“Obyek Wisata Bersejarah Di Lembang Mengenal Jejak Junghuhn”

oleh

 
LEMBANG-KBB, (PERAKNEW).- Pada sebuah gunung tepatnya dekat pohon tinggi, didirikan monumen untuk mengenang jejak Junghuhn. Obyek wisata bersejarah ini memang tidak seramai obyek wisata lainnya di Lembang, tapi tanggal yang tertera diatas makam sederhana itu merupakan fakta kehidupan mendasar yang menjadi sumber atau bahan berbagai tulisan perpustakaan universitas dan cerita petualangan.

Franz Wilhelm Junghuhn dilahirkan di Mansfeld Pruisen, 14 Oktober 1810. Ia meninggal dunia di Lembang pada 24 April 1864. Tanggal kelahiran tersebut salah meskipun salah seorang penduduk yang telah lanjut usia dari desa itu menunjukan pohon-pohon yang daunnya berguguran disekitar daerah tersebut, yang tidak segera dapat dikenali oleh orang yang tidak akrab dengan tumbuh-tumbuhan. Pohon tersebut adalah pohon kina. Pohon yang memainkan peran penting dalam kehidupan Junghuhn yang penuh gejolak.

Junghuhn berasal dari keluarga dokter. Ia mengambil jurusan kedokteran di Universitas Halle dan Universitas Berlin. Kemudian, ia diberi tugas sebagai dokter bedah di Angkatan Bersenjata Prussia. Keterlibatan ia dalam sebuah perkelahian yang berakhir tanpa korban, telah membawa keruntuhan. Ia dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun di Benteng Ehreinbreitstein dekat Koblenz. Namun, ia melarikan diri ke Perancis setelah 20 bulan dipenjara dan bergabung dengan Legiun asing di Aljazair – seorang pria yang kehilangan arah tujuan, kehilangan hak-haknya sebagai warga negara, dan mencapai sebuah simpulan bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukannya di Benua Eropa.

Pada 1835, ia tiba di Batavia (Jakarta) tempat ia bekerja untuk Belanda sebagai petugas kesehatan. Tidak lama kemudian, ia dapat melakukan apa yang menjadi kegemarannya, yaitu menjelajahi dan mempelajari alam Indonesia.

Junghuhn mendapatkan cuti dari tugas-tugasnya sebagai dokter. Pada 1839, ia mulai mengumpulkan berbagai data dari Jawa, kemudian melanjutkan pekerjaannya di Batakland, Sumatera Utara, antara 1840 dan 1842. Sesudah itu ia hanya mempelajari Jawa. Ia merupakan orang pertama yang secara sistematis menjelajahi pulau utama kepulauan Indonesia, dengan berjalan kaki untuk membuat inventaris atas keadaan alam, dengan biaya sendiri, penuh tekanan dan disiplin diri yang luar biasa untuk mengatasi semua rintangan.

“Selama 12 tahun, saya mengabdikan diri pada kerja ilmiah saya di Hindia (Indonesia-red), menghormatinya bagai sesuatu yang sakral; pada jalan-jalan setapak yang sepi, saya mencari jalan melintasi pegunungan dan hutan-hutan di kepulauan Sunda yang megah, tanpa tujuan lain, selain karena saya kerjakan dengan semangat saya sendiri”.

Kata-kata ini tertuang dalam kata pengantar bukunya, Jawa, Karakter Fisik, Tetumbuhan dan Struktur Dalamnya, yang ia tulis di Belanda pada 1848-1851. Dengan kesehatan yang memburuk, ia tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa lelah melalui Indonesia.

“Junghuhn adalah penjelajah ilmiah Jerman terbesar di tanah Melayu”. Pujian ini disampaikan oleh orang yang mengikuti jejak Junghuhn pada abad ini-yang melaksanakan kerja lapangan geografis di Indonesia dibawah kondisi alam yang sama sulitnya-Karl Helbig, dilahirkan 1903 di Hildesheim dan meninggal dunia pada 1991 di Hamburg.

Junghuhn disebut-sebut sebagai Humboldt-nya Jawa. Ia di ibaratkan Alexander Von Humboldt (1769 – 1850), cendikiawan besar yang menjelajahi Amerika Latin. Para ilmuan dari generasi ke generasi menarik manfaat dari dasar riset yang diletakan Junghuhn. Perkembangan ekonomi Jawa mendapatkan arah dari data penelitian Junghuhn. Ia yang membuat topografis pertama Jawa. Ia menuliskan bukunya secara tidak sengaja dalam bahasa Belanda. Kolega dan rekan sebangsanya, Justus Karl Hasskarl, menerjemahkannya kedalam bahasa Jerman. Pejabat kolonial ini memainkan peran lain dalam kehidupan Junghuhn, sedangkan kehidupannya sendiri juga penuh warna petualangan.

Hasskarl lahir pada 6 November 1881 di Kassel, meninggal dunia pada 5 Januari 1894 di Celle. Pada 1930 dan 1940-an, Hasskarl bekerja di Kebun Raya Bogor. Ia kemudian kembali ke Eropa dan dipercaya oleh pemerintah Belanda untuk melaksanakan sebuah misi penuh bahaya diluar jalur hukum, yaitu membawa biji-biji serta bibit cinchona (kina) dari Peru ke Jawa. Peru pada masa itu memegang monopoli penggunaan pohon kina mengeluarkan larangan ekspor total. Kulit pohon cinchona sudah sejak lama diketahui sebagai bahan dasar untuk menyembuhkan malaria. Permintaan kina tersebut berkembang sejalan meningkatnya jumlah orang Eropa yang mulai hidup dan bekerja di daerah-daerah beriklim tropis.

Bubuk yang berwarna putih dan larut dalam air disebut kina diambil dari kulit cinchona, sangat laku keras dipasaran Eropa. Hasskarl melaksanakan misi tersebut dengan sukses. Dengan menumpang senuah kapal perang Belanda, ia membawa biji-biji kina dan 121 kotak berisi anak pohon Calisay cinchona ke pulau Jawa. Tujuh puluh pohon anak kina selamat dalam pelayaran tersebut. Di Cibodas, dekat Bogor, pohon-pohon pertama cinchona pertama ditanam; sebuah proyek tanpa pengalaman sama sekali. Hal ini merupakan tantangan ilmiah dan komersial. Karena kesehatannya terganggu, Hasskarl memutuskan untuk kembali ke Eropa. Sebagai gantinya, pemerintah menunjuk Junghuhn yang telah kembali ke Jawa pada 1851 sebagai penanggung jawab pengembangan pohon kina atau dikenal dengan Kinakultur. Disekitar Lembang, ia memulai perkembangan pohon kina. Ia pindah kesana bersama dengan isteri dan anak laki-lakinya yang masih kecil. Ini merupakan awal dari bagian kedua kehidupan penuh petualangannya. Kegagalan dan masalah kesehatan menandai tahun-tahun terakhir hidupnya. Kesuksesan tidak lagi dapat diraihnya.

Ketika dokter berkebangsaan Swiss, E. Haffter menetap di Lembang pada 1898, 34 tahun sesudah meninggalnya Junghuhn, ia mencatat bahwa terdapat lebih dari dua juta pohon cinchona digunakan untuk memproduksi kina. Sampai dengan 1940-an dan kekacauan akibat Perang Dunia II, perkebunan disekitar Bandung memasok bahan mentah 90% produksi kina keseluruh dunia. Selama beberapa waktu lamanya, kina merupakan satu-satunya senjata melawan penyakit malaria. Monopoli yang dikaitkan dengan nama Bandung, hanya dipatahkan oleh hadirnya produksi obat-obat sintetis untuk menyembuhkan malaria yang dipelopori oleh perusahaan kimia Jerman. Ferry/Edy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *