Disdik Cimahi Minta Konsep Sekolah Lima Hari Ditunda

oleh
Disdik Cimahi Minta Konsep Sekolah Lima Hari Ditunda
Disdik Cimahi Minta Konsep Sekolah Lima Hari Ditunda

Disdik Cimahi Minta Konsep Sekolah Lima Hari Ditunda

CIMAHI, (PERAKNEW).- Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi mengusulkan agar pelaksanaan sekolah lima hari atau full day school ditunda. Pasalnya, realitas di lapangan masing-masing sekolah berbeda kesiapannya dari sisi guru dan sarana prasarananya.

Program belajar di sekolah selama 8 jam sehari ini berawal dari suksesnya sekolah yang telah menerapkan hal tersebut dalam mencetak generasi. Ini juga untuk merealisasikan 5 nilai utama yang telah disusun yaitu, religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas.

Selain itu, mengingat guru bagian dari PNS, kebijakan ini juga untuk memenuhi beban kerja 40 jam kepada guru berdasarkan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara. Penerapan 5 hari sekolah ini bagi peserta didik akan diwujudkan dalam pelaksanaan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Dengan demikian, dalam sehari siswa tidak 8 jam penuh berada di dalam kelas, tetapi bisa berkolaborasi dengan lingkungan sekitar.

Meski begitu, Sekertaris Disdik Kota Cimahi, Ipah Latipah mengatakan, saat ini mayoritas sekolah di Cimahi masih kekurangan tenaga pendidik. Selain itu, beberapa sekolah juga ada yang dibagi menjadi dua shift karena kekurangan ruang belajar.

“Sarana dan prasarana lainnya jugakan harus disiapkan agar mampu menunjang program sekolah lima hari tersebut,” kata Ipah, belum lama ini.

Menurut Ipah, saat ini pihaknya akan menyerap aspirasi dari setiap sekolah sambil melihat kemampuan dari masing-masing sekolah. Selanjutnya, setelah melihat kesiapan tersebut, pihaknya akan sampaikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Salah satu Guru di SDN Cigugur Tengah, Ima Choeriyah mengungkapkan, program sekolah lima hari itu belum bisa diterapkan di Cimahi, karena banyak sekolah di daerah yang sangat minim dari segi fasilitas dan tenaga pengajar.

“Ada juga anjuran juga dari Kementrian agar bermitra dengan pihak lain untuk memberikan pelajaran kesenian, agama dan yang lainnya. Mungkin untuk sekolah besar mereka siap, tapi kalau untuk sekolah kecilkan itu tidak mungkin,” ujar Imah.

Selain itu, sambung Imah, kendala lain yang akan dialami sekolah di daerah adalah jarak tempuh antara rumah dan sekolah yang jauh dan memakan waktu berjam-jam untuk sampai ke sekolah juga harus diperhatikan, karena menyangkut keselamatan murid saat pulang sekolah.

“Sekolah itu bukan di kota-kota saja, di pelosok itu anak-anak harus menyebrang sungai dan melewati jalan yang jauh untuk bisa sampai ke sekolah, kalau pulangnya jam 16.00 WIB, sampai rumah jam berapa? ini harus diperhatikan,” pungkasnya.

(Harold)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *