SUBANG, (PERAKNEW).- Perlakuan yang tidak profesional dari bagian Admin Centre Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung kembali ditunjukkan dengan terus mengundur-undur jadwal pasien Taswa tanpa alasan yang jelas. Pihak RS hanya menyebutkan ‘tunggu kalau ada ruang kamar rawat yang kosong, ‘dan itupun tidak pasti.

Di Admission Centre, terdapat loket-loket pemeriksaan berkas pasien yang akan mendaftar untuk mendapatkan ruangan. Hasil penelusuran tim menemukan bagian-bagian loket tersebut dilimpahkan ke loket 3 yang selalu ditempati oleh Suhaeni atau akrab dipanggil ibu Heni. Pasien ditentukan oleh bu Heni untuk mendapatkan ruangan atau tidak, nada yang ketus terkadang keluar dari mulutnya, bahkan sambil nada tinggi Heni menyampaikan kata-katanya terkait pemberitahuan atau menerangkan kepada pasien mengenai jadwal ruangannya.

Sejak 10 Maret lalu berkali-kali Taswa dan keluarga mendatangi  RSHS Bandung dengan menggunakan Ambulans Gratis FMP ke Bandung berharap segera mendapatkan ruang rawat inap, namun hasilnya selalu mengecewakan. Dugaan ada unsur kesengajaan oleh pihak Admission Centre menguat karena sampai pada hari Jumat tanggal 31 Maret 2017 ini Taswa belum juga mendapat ruangan.

Menjadi sebuah kebingungan yang sangat serius bagi keluarga Taswa karena selang yang menempel pada ginjal Taswa sudah cukup lama sehingga khawatir membahayakan bagi pasiennya. Terbukti jika kecapean atau banyak berdiri suka keluar darah pada bagian selang yang terpasang tersebut..

Taswa yang bertempat tinggal di Kampung Sumberjaya Rt 016 Rw 005, Desa Wanasari Kecamatan Cipunagara ini sungguh kurang beruntung nasibnya, sampai saat ini selalu  mendapatkan  masalah baik dalam pemeriksaan di Urologi maupun di bagian Admission Centre sehingga jadwal operasinya terkatung-katung.

Adapun permasalahan di Ruang Urologi beberapa waktu yang lalu merupakan sebuah kelalaian seorang dokter yaitu Dr. Joecliedian atau yang di kenal dokter Jo bagian ruangan Urologi yang tidak  menyegerakan penjadwalan untuk operasinya. Seperti yang sudah diberitakan di edisi-edisi sebelumnya Taswa layak disebut Rekor terhambat penjadwalan Operasi di banding pasien-pasien lainya khususnya diamping oleh Tim Evakuasi Pasien Gakin FMP.

Pemeriksaan sejak dari 4 bulan yang lalu paska dibagian tubuhnya dipasang selang untuk mensterilkan ginjalnya sampai saat ini Taswa belum juga ada kejelasan kapan akan mendapatkan jadwal Operasi. Padahal tim medis sudah beberapa kali menjadwalkan, namun selalu tidak klop dengan jadwal di Admin Centre, bahkan jawabannyaa selalu tidak jelas.

Nasin Serupa dialami Ape Mahfudin
Ape Mahfudin (26)  pasien yang bertempat tinggal  di Dusun Cibungur Rt 05 Rw 02 Desa Cikaum Barat Kecamatan Cikaum, Kabupaten Subang, Ape Mahfudin merupakan pasien yang  telah didiagnosa: Haemangioma, any sait – D16.0 atau yang lebih mudah di kenal dengan sebutan Tumor oleh dokter RSUD Ciereng Subang pada Januari 2016 lalu dan pihak Rs merujuknya ke RSHS Bandung.

Perjalanan pemeriksaan  dan penanganan pada Ruang Vasculer selalu berjalan lancar dan selalu intensif bahkan hampir tidak pernah menemukan hambatan. Dengan menggunakan BPJS Kelas 2 Ape Mahfudin dan keluarga merasa percaya diri akan mendapatkan pelayanan yang lebih baik di banding Pasien BPJS Kelas 3, tetapi pada kenyataannya pelayanan itu sama saja terutama di bagian Admission Centre yang terkesan selalu memainkan jadwal ruang rawat, meski tim medis telah menjadwalkan untuk operasi.

Pengunduran jadwal pasien  tanpa pertimbangan maupun perhatian khusus untuk pasien kelas 2. Anehnya, jika iuran bulanan telat maka fasilitas BPJS pun dinon aktifkan, apakah ini berimbang dengan pelayanan yang semestinya?

Ruang Admission Centre berani menolak surat pengantar dari dokter, padahal pihak dokter sudah menentukan jadwal untuk tindakan Digital Subtraction Angiography ( DSA ), baik itu dari dokter bagian Radiologi maupun Dokter bagian Vasculer.
Adapun bunyi Surat Pengantar tersebut yaitu ‘Mohon diprioritaskan pasien kami karena akan di lakukan DSA terjadwal besok 30/3/2017 Terima kasih. Tertanda  Prof. Dr. H. Hendro Sudjono Yuwono, Phd. Lagi-lagi penolakan tersebut keluar dari bahasa sinis Heni, sang pelayan public di Admission Centre tepatnya di loket 3.
Dengan prilaku sang Admin center yang sangat buruk itu, timbul tudingan dari berbagai pihak adanya permainan kotor di tubuh Admin Center, sehingga dengan seenaknya mengundur-undur jadwal operasi yang telah ditentukan tim medis.

Sementara itu, menyikapi hal tersebut Ketua Umum Forum Masyarakat Peduli (FMP) Asep Sumarna Toha Mengancam akan menggelar aksi di Gedung Sate Bandung mendesak Gubernur dan DPRD Provinsi Jabar segara merespon kondisi ini, sebab ini menyangkut nyawa rakyat Jabar.

Selain itu Asep juga akan mensomasi pihak RSHS Bandung karena akibat perlakuan pihak Admin Centre RS yang berkali kali menolak rekomendasi tim medis untuk jadwal operasi pasien binaan TEPG-FMP, pihaknya sangat dirugikan baik materi, tenaga maupun pikiran.

Sebagai informasi saja, bahwa keguatan pendampingan pasien khususnya pasien miskin, mulai antar jemput menggunakan Unit Ambulans Lembaga dari rumah pasien menuju Rs rujukan hingga mendampingi proses pengobatan di Rs, pasien tidak dibebani apapun alias gratis-tis, sehingga dengan kejadian tersebut tentunya  lembaga harus merogoh kocek lebih dalam lagi, sementara lembaga tanpa disubsidi oleh APBD/APBN, terlebih pihak Pemkab Subang hingga kini belum merealisasikan Rumah Singgah untuk pasien di Bandung, semakin megap- megap saja. Tapi Insyaallah dengan Izin Allah pasien-pasien akan tetap terlayani, “ Ya Sakieu Oge Alhamdulillah,” Ungkap Asep bersyukur. Pepen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here